Saat goresan tangan mengalir deras laksana air bah yang tak mampu tertahan, saat itulah aku masih menuangkan segenap yang ku punya.
29 November 2013
Pengamatan Si Pengukur Jalan
24 May 2013
Keseharian, Pengalaman, dan Pelajaran-pelajaran Baru
23 April 2013
Perjumpaan dengan Si Dia
27 October 2011
Kumaha Aing We
Reputasi?
How do I Build my Reputation?
Pertanyaan di atas memerlukan jawaban sebuah proses. Proses yang saya lakukan dalam membentuk reputasi terhadap diri saya pribadi. Selama ini prinsip yang saya anut adalah biarlah orang menilai apa pun terhadap diri saya, karena inilah saya apa adanya. Untuk apa menutup-nutupi kekurangan kalau kekurangan itu adalah memang bagian dari diri saya pribadi. Selain itu, yang juga menjadi prinsip saya adalah biarkan orang lain menilai tanpa perlu dipamer-pamerkan. Mereputasikan diri saya istilahkan sebagai melakukan tindakan yang apa adanya sebagaimana saya biasanya.
Apa yang saya lakukan adalah karena saya ingin melakukannya dan mudah-mudahan tidak ada rasa kesombongan karena ingin dipandang baik oleh orang lain. Secara pribadi saya lebih menghargai orang-orang yang berani menunjukkan jati dirinya apa adanya. Tanpa harus memakai topeng. Tanpa harus mengenakan pakaian-pakaian yang bertujuan memperindah tampilannya di depan orang lain. Buat apa Anda terlihat cantik atau Anda terlihat indah jika di dalam keterlihatan cantik dan keterlihatan indah itu Anda sejatinya jelek?
Reputasi adalah bagaimana penilaian manusia melihat seseorang atau dalam kata lain bagaimana seseorang dilihat oleh manusia lainnya. Satu poin yang saya garisbawahi adalah reputasi merupakan bentukan pemikiran dan penilaian manusia yang tidak akan pernah lepas dari “subjektifitas”. Penilaian secara manusia dapat berubah-ubah tergantung seberapa subjektif penilai tersebut. Faktor-faktor kedekatan dan yang paling utama adalah faktor kemanusiaan (baca: rasa tidak enak) kepada kerabat atau orang yang kita kenal akan sangat mempengaruhi penilaian. Hal ini yang coba saya angkat bahwa mencari reputasi yang serba subjektif dan manusiawi ini bukanlah menjadi tujuan utama.
Utopiskah saya? Bahkan mendefinisikan utopis itu terlalu tinggi bagi saya. Tapi, begitulah adanya dan begitulah kenyataan duniawi yang sering kita temukan. Saya dinilai baik atau saya dinilai buruk tergantung si penilai atau si manusia tersebut. Apalah arti penilaian baik dari manusia jika saya tidak mendapat nilai baik dari Sang Pencipta. Seperti itulah kurang lebih ilustrasi jalan yang saya tempuh dalam rangka mereputasikan diri saya. Manusia juga bisa salah, tapi Allah tidak akan salah. Maka dari itu walaupun orang lain menilai saya adalah orang baik atau buruk bukanlah menjadi soal, karena yang lebih tahu apa yang saya perbuat adalah saya dan Allah.
Reputasi atau penilaian dari orang lain menurut saya adalah sebuah koreksi pribadi dan bukan menjadi suatu tolak ukur kepuasan dalam melakukan hal yang baik. Jika menurut orang lain itu adalah salah atau buruk, maka saya harus melihat rekaman tindakan saya dan menjadikan pelajaran. Kemudian jika orang menilai itu baik, maka tidak kemudian saya berbangga hati dan membusungkan dada karena hal tersebut tidak lepas dari tuntunan Allah. Karena saya yakin yang menilai dengan adil adalah Allah. Untuk itu ada sebuah pernyataan yang saya dengar dalam sebuah ceramah yang juga menjadi salah satu penyemangat saya adalah “Lakukanlah yang kamu yakini benar dan jangan saling menyalahkan kepada orang yang berbeda jalan dengan kita. Karena yang akan memberikan penilaian di hari akhir adalah Allah”.
Dari sebaris kalimat indah tersebut, saya kemudian memantapkan diri untuk insyallah jika Allah berkenan saya akan tetap melakukan sesuatu dengan cara dan gaya saya sendiri. Meningat reputasi bagi saya adalah bagaimana tetap menjadi diri sendiri. Dalam jargon Sunda, “Kumaha aing wae!”
diposting pertama kali di :
http://www.facebook.com/groups/150466301718640/doc/151329681632302/
11 August 2011
Semangat, Berbeda, dan Tujuan
Mencari semangat tidak hanya lewat mata, mencari semangat tidak hanya lewat kata. - Adityo D. Sudagung dalam sebuah inspirasi malam yang membuatku tetap terjaga
Sepenggal kalimat yang abstrak dan tanpa makna, mungkin saja. Tapi, sebaris kata-kata ini menerjemahkan beragam ide dari penulis. Apakah semangat? Bahkan penulis bingung menjelaskan "semangat" dalam satu atau lebih kata. Yang penulis tahu, semangat itu saat kita naik. Apa lagi itu saat kita naik? Penulis mengartikan istilah itu sebagai kondisi dimana jantung berdegup menggebu, aliran darah ke otak sangat lancar, adrenalin meningkat, dan mata ini terus terjaga saat tangan ini menari di atas deretan huruf di sebuah alat elektronik.
Sempit sekali definisi tersebut, kenapa? Karena jika dirangkai dan dimaknai, maka semangat hanya saat Anda mengetik lewat laptop atau komputer. Ternyata tidak hanya sekedar itu saja kondisinya. Laptop atau komputer penulis artikan hanya sebagai salah satu media. Salah satu media, bukan berarti satu-satunya media menyalurkan semangat.
Definisi singkat dari sepenggal kalimat di awal penulis resapi dan rasakan mungkin saat penulis sedang menulis tulisan ini di laptop. Lain halnya jika penulis sedang bermain futsal atau melakukan kegiatan lainnya. Akan tampak dan kedengaran beda lagi. Toh, itu bukanlah masalah yang besar kawan!
Beda tidak harus membeda-bedakan. Berbeda menambah wawasan kita, berbeda membuat kita menjadi lebih berpikir. Berbeda menunjukkan kita berjuta ragam aspek dari sebuah kata yang kita kenal "kehidupan".
Berbeda juga mampu membuat diri kita naik (definisi awal dari semangat). Penulis berbeda prestasi dengan rekan yang seprofesi, penulis akan lebih me"naik"kan diri. Anda pun demikian!
Semangat muncul saat Anda mempunyai tujuan, itu pasti! Pak Tani ingin memanen seratus karung padi sebulan, Pelajar ingin menjuarai lomba olimpiade, Atlet ingin mendapat medali, dan tujuan-tujuan lain memacu diri kita. Ingin lebih baik, tanamkan semangat dengan menancapkan tujuanmu, Kawan!
110811
Fenomena Bersepeda
Beberapa tahun sebelumnya, menurut hemat saya bersepeda itu hanya merupakan budaya kelas bawah. Dalam studi budaya disebut dengan low culture. Karena selama beberapa tahun belakangan, bersepeda di jalanan kota hanya dilakukan oleh orang-orang kelas bawah, seperti buruh, tukang, dan lainnya. Sepeda merupakan alat transportasi kelas bawah di Indonesia. Mungkin sempat ada kelompok sepeda ontel yang mulai menyemarakkan "low culture" ini, tapi masih belum terlihat sebagai rutinitas karena mereka adalah komunitas.
Di satu sisi, menjamurnya "virus" bersepeda ini memberikan keuntungan bagi para pemiliki dan penyedia jasa bengkel sepeda atau penjual sepeda. Terutama mereka yang di kelas menengah ke bawah. Setengah tahun lalu, ketika saya sedang mengunjungi salah satu bengkel sepeda di bilangan cileunyi, sempat terlintas pikiran saya "Adakah yang mau membeli sepeda sekarang-sekarang ini? Apakah sepeda akan punah?".
Pertanyaan ini mengisi kepala saya mengingat "invasi" kendaraan pribadi semacam motor dan mobil yang semakin banyak. Tapi, dengan berkembangnya kesadaran masyarakat akan hidup sehat kekhawatiran saya setengah tahun lalu mulai memudar. Hampir semua kalangan bersepeda akhir-akhir ini. Bersepeda tidak lagi dipandang sebagai aktifitas orang-orang kelas bawah.
Namun, di sisi lain pemikiran saya kembali mempertanyakan kondisi yang ada. Memang secara ekplisit bersepeda menjadi budaya populer dan digandrungi semua kalangan, tetapi dibalik budaya bersepeda ini muncul sedikit hal yang mengganjal pikiran saya. Yaitu, objek sepedanya itu sendiri yang berkeliaran di jalanan.
Kebanyakan yang saya amati sepeda yang digunakan itu bukanlah sepeda yang dahulu dipakai orang-orang kelas menengah ke atas yang mempertahankan budaya bersepeda itu, tetapi sepeda-sepeda yang berkeliaran mengikuti pergeseran kaum borjuis itu sendiri. Sepeda-sepeda bermerk dan beraneka model trendy dengan harga yang "wah" mencapai nominal jutaan justru yang banyak digunakan dan diminati oleh masyarakat. Saya melihat fenomena sebagai dampak dari pergeseran kaum borjuis yang melakukan aktifitas bersepeda ini. Image borjuis tidak lepas kendati melakukan aktifitas "low culture". Bahkan "culture" bersepeda ini yang terpengaruh bawaan orang-orang borjuis.
Sekali lagi muncul kekhawatiran saya, "Apakah bersepeda akan menjadi olahraga mahal?" "Apakah bersepeda menjadi "high culture"?" "Apakah ini akan memberikan efek dan stigma bahwa bersepeda jadi milik orang-orang borjuis saja?"
Dasar pertanyaan saya di atas adalah kondisi di lapangan yang memperlihatkan realita bahwa "sepeda-sepeda" yang berkeliaran adalah benda-benda yang tergolong mahal. Ketika orang-orang borjuis mengayuh sepeda jutaan rupiah dan meramaikan jalanan, ketika itu saya khawatir akan terjadi lagi kesenjangan dengan kaum proletar. Minder karena sepeda yang berbeda kelas, serta dari penampilan yang membuat bersepeda seolah elit dengan setelan komplit dan sebagainya.
Tadinya bersepada hanya budaya orang-orang proletar, kini mulai menjadi budaya populer. Akan tetapi terdapat kemungkinan menjadi budaya orang-orang borjuis mengingat dominasi sepeda-sepada yang harganya "wah" tadi. Memungkinkan terjadinya kesenjangan antara borjuis dan proletar lagi, namun kali ini bukan karena dikucilkan tapi karena naiknya kelas budaya bersepeda. Pembahasan ini tidak bertujuan menyudutkan atau menyatakan pesimistis, tapi hanya sekedar pemikiran seorang manusia yang mencoba bertanya akan realita di sekilingnya. Semoga pergeseran menjadi "high culture" itu tidak terjadi dan bersepeda bisa menjadi momen menyatukan bangsa!
290511
26 April 2011
Military Industrial Complex Dalam Film Lord of War
12 November 2008
Kehidupan Mahasiswa
Tidak hanya dari segi akademis, terutama bagi mahasiswa yang ngekost. Cobaan juga bertambah. Mulai dari mengatur keuangan, jadwal makan, mengatur kegiatan, dan sebagainya. Pada intinya bagaimana bisa mengatur diri sendiri di tempat orang.
Masalah yang kerap muncul adalah masalah keuangan. Kebanyakan dari kita mungkin "ringan tangan" alias gampang ngeluarin uang dari dompet karena kepengen ini dan itu. Padahal kita harus wise mengatur keuangan.
Masalah lainnya adalah membagi waktu, kita dituntut mampu membagi dan mengatur waktu dengan baik. Karena 1 detik yang terbuang akan sangat sia-sia. Ibaratnya ketika kita harus menyelesaikan 10 halaman tugas, tapi karena kita lalai sehingga tugas yang mestinya dapat selesai dalam waktu 3 hari jadi ketetaran dan molor sampai 1 minggu.
Tapi, over all semua tergantung Anda masing-masing. Apakah sudah siap menjadi mahasiswa dengan kewajiban dan tuntutan yang lebih besar atau akan tetap nyantai seperti anak SMA?
The choice is yours!!