Showing posts with label point of view. Show all posts
Showing posts with label point of view. Show all posts

29 November 2013

Pengamatan Si Pengukur Jalan

Pernahkah kita memperhatikan kondisi di jalan raya akhir-akhir ini?

Saya dalam satu tahun terakhir berpikir-pikir atas apa yang saya amati dari rutinitas berkendara di Kota Bandung dan sekitarnya. Adalah fakta bahwa aturan-aturan di jalan semakin ditinggalkan, tanda tidak boleh parkir, tanda tidak boleh stop, dilarang memutar, menyebrang jalan sembarangan, menerobos lampu merah, tidak mengenakan helm, melawan arus, dan sebagainya.


image


image


image


Suatu hal yang menjadi perhatian saya adalah mengenai hubungan pejalan kaki dan pengendara kendaraan bermotor. Sering sekali saya temui pengendara motor dan mobil tidak memberikan hak pada pejalan kaki untuk menyebrang. Jangankan untuk pejalan kaki, sering kali sesama pengadara kendaraan tidak mau mengalah. Hal ini sudah menjadi kejadian yang sering terjadi menunjukkan bahwa sesama pengguna jalan saling tidak menghormati.

Namun, satu hal yang unik dan menarik perhatian saya dari hubungan pejalan kaki dan pengendara kendaraan adalah pejalan kaki juga terkadang tidak menghargai pengguna jalan yang lain atau bahkan dirinya sendiri. Pernyataan ini muncul di benak saya saat saya sering melihat kejadian orang-orang yang menyebrang sembarang tempat, orang-orang yang menyebrang di lampu merah saat lampu lalu lintas berwarna “hijau”.


image


Untuk kejadian yang pertama, dalam beberapa kasus saya melihat masalahnya bisa muncul karena dua hal. Pertama, kebiasaan dari orang-orang yang mengabaikan zebra cross dan jembatan penyebrangan. Ada kecenderungan “ngoboi” atau semau-maunya di jalan, dan tidak hanya dilakukan oleh pengendara motor tapi juga dilakukan oleh pejalan kaki. Kedua, dalam beberapa kasus pejalan kaki tidak diberi tempat untuk menyebrang jalan. Salah satu yang saya perhatikan adalah jarak antar zebra croos terlalu jauh. Kalau mau menyebrang harus berjalan agak jauh sehingga tidak praktis, mungkin ini yang ada di benak beberapa pejalan kaki. Saya mengamati dari mulai zebra cross di depan kampus IKOPIN, Jatinangor, sampai dengan depan kampus UNPAD, Jatinangor tidak tedapat zebra cross. Logisnya, muncul pertanyaan bagaimana mahasiswa UNPAD menyebrang jalan jika tidak ada zebra cross? Bukankah ini artinya kita mengambil hak perlindungan bagi para penyebrang jalan?

Kejadian yang kedua adalah salah satu kejadian paling unik yang membuat saya berpikir bahwa pejalan kaki juga sudah tidak teratur di jalan. Tertular oleh kebiasaan para pengguna motor dan mobil yang cenderung melanggar lampu lalu lintas. Beberapa kali saya melihat orang-orang yang menyebrang saat lampu lalu lintas berwarna hijau. Seolah-olah karena menganggap mendapat hak special di jalan, mereka menggunakan kekuasaan itu untuk melanggar aturan.

Jika kita melihat kejadian-kejadian yang terjadi di jalanan yang semakin padat, macet, dan tidak teratur dapat saya tarik satu kesimpulan bahwa pengguna jalan tidak sabaran. Ketidaksabaran ini yang membuat kita tidak menghargai pengguna jalan yang lain. Untuk itu kita harus mulai mengintrospeksi diri. Apakah kita semua tidak mendambakan jalan yang lancar dan teratur? Lantas apa yang bisa kita ubah dari perilaku kita saat ini?

Upaya pertama adalah mengembalikan kembali budaya saling menghargai di jalan. Semua pengguna jalan memiliki haknya yang harus kita hargai. Sikap saling menghargai ini harus diterapkan kembali dalam diri kita masing-masing.

Lantas, untuk masalah penyebrangan jalan apa yang dapat kita lakukan? Suatu ide yang saya rasa bisa diterapkan dalam menyikapi hal ini adalah menggalakkan budaya menyebrang pada tempatnya. Pada tempatnya berarti tempat dalam arti fisik dan tempat dalam arti waktunya. Zebra cross dipertimbangkan lagi jarak dan penempatannya sehingga pejalan kaki diberikan haknya untuk menyebrang. Jika jalan tersebut dirasakan terlalu berbahaya untuk disebrangi, ada baiknya jembatan penyebrangan dibuat seperti di depan kampus UNPAD.

Kemudian, yang kedua adalah mempromosikan budaya menyebrang yang baik. Kita bisa mulai dengan memberikan plang “menyebrang di sini” di setiap tempat penyebrangan jalan. Kita mulai dengan ajakan dan jangan lupa dengan mulai merubah diri kita. Satu kalimat yang sangat bagus adalah “Kalau mau merubah dunia, jangan lupa untuk mulai dengan merubah diri sendiri.” Kalau satu per satu kita sudah bisa membudayakan tertib, kita tunggu waktunya langkah-langkah kecil itu menjadi ombak yang menggulung dan merubah kebudayaan tidak teratur saat ini.

Oleh D. Sudagung
5 November 2013

24 May 2013

Keseharian, Pengalaman, dan Pelajaran-pelajaran Baru

Sampai dengan beberapa bulan terakhir ini saya mengikuti sebuah kegiatanextention course bernama Everyday and Cultural Life di kampus Filsafat dan Budaya UNPAR. Saya direkomendasikan oleh salah seorang keluarga saya yang menurut saya sangat luas wawasannya. Pada awalnya saya berpikir apa salahnya dicoba karena ilmu mungkin bisa datang dari mana saja. Bahasa kasarnya “iseng-iseng” mencari ilmu. 
Suatu pelajaran baru di tempat yang baru buat saya terutama di kampus orang lain. Suatu kajian keilmuan yang selama saya kuliah merupakan salah satu yang bobotnya terberat. Terberat dalam arti keluasan cakupan ilmunya dan cara mempelajari ilmunya. Menurut pemahaman saya mempelajari filsafat adalah kegiatan bertanya-tanya. Meskipun demikian sampai saat ini (pertemuan ke-8) saya belum bertanya secara langsung kepada pemateri.
Acara ini dilakukan setiap hari Jum’at pukul 18.30. Para pemateri pun beragam, meskipun sejauh ini hanya 1 orang yang saya tahu, yaitu Ridwan Kamil. Pemaparan materi setiap minggunya berbeda-beda sudut pandang dengan satu tema yaitu “Keseharian”. Perjuangan para pencari ilmu dari Jatinangor setiap sore antara pukul 5 ke atas menuju Bandung. Jangan bayangkan jauh, macet, dan jika hujannya. Ini sekedar info selingan.
Pada pertemuan pertama saya mendapatkan suatu ilmu yang baru. Pernahkan Anda membayangkan ada sekelompok orang-orang yang membahas “kehidupan sehari-hari” secara keilmuan? “Keseharian” yang biasa kita hanya tahu sebagai rutinitas, seperti saya makan, saya minum, saya belajar, saya bekerja, dan sebagainya itu. Pada pertemuan pertama itu dikupas secara mendalam apa itu “keseharian”. “Keseharian” yang dibahas justru berbeda dengan yang biasa kita tahu. “Keseharian” yang natural adalah yang terjadi saat ini dan ia tidak akan terulang. Ada unsur spontanitas. Diistilahkan oleh Prof. Bambang Sugiharto dengan “the now”. 
Bahkan untuk menjelaskan “keseharian” ini bisa dengan beberapa sudut pandang para tokoh, seperti George Simmel, Walter Benjamin, Henri Lefebure, dan Michel de Certeau. Siapa ini nama-nama yang disebutkan di atas. Bagi saya ini asing, tapi ini jadi hal yang baru yang membuat saya berpikir “O, begitu”. 
Satu hal yang menjadi fokus pertemuan pertama itu adalah “Keseharian vs Modernitas”. Seperti yang saya sebutkan di atas, “keseharian” itu yang saat ini dirasakan dialami. Sedangkan modernitas membawa suatu mekanisme sistem yang membuat kita melakukan rutinitas-rutinitas, contohnya sistem pekerjaan, sistem belajar, sistem komunikasi, teknologi, dan sebagainya. Kesemua sistem ini menuntut Anda untuk melakukan kuantifikasi dengan mengesampingkan kualifikasi. Ada rutinitas yang membuat kita tidak sempat menikmati kualitas saat ini atau the now. Bahkan sesuatu yang kita alami itu membanjiri diri kita tanpa sempat dirasakan. Dikatakan belum selesai kita menonton tv kadang kita sudah harus melakukan panggilan telpon. Atau belum selesai memikirkan jawaban pertanyaan yang satu, kita sudah harus memikirkan jawaban pertanyaan lainnya. Belum selesai pekerjaan yang satu sudah harus mempersiapkan pekerjaan lainnya. Semuanya itu begitu saja berlalu tanpa ada sesuatu yang bermakna dalam keseharian kita.
Meskipun disodorkan suatu solusi untuk menikmati “saat ini” itu dengan menulis pengalaman Anda, tapi saat Anda menulis itu bukan suatu hal yang saat itu Anda rasakan. Dengan Anda menulis pada saat merasakan “saat ini” pun itu berarti Anda mengganggu proses “kekinian” itu. Tapi, setidaknya dengan menulis pengalaman Anda setelah merasakan waktu “saat ini” ada suatu sarana untuk kita mengingat waktu-waktu yang pernah kita nikmati. Dalam bahasa yang praktis kita melukiskan kembali momen yang berarti yang kita rasakan. Momen berarti ini bisa momen paling membahagiakan atau yang paling menyedihkan dalam satu hari Anda.
Pernahkah Anda sekarang benar-benar menikmati waktu yang ada saat ini tanpa terganggu oleh pikiran-pikiran lainnya? Pernahkah ada suatu “waktu” yang membuat Anda merasakan diri kita lepas dari rutinitas yang itu-itu saja? Momen berarti apa yang Anda rasakan hari ini? 
Satu kalimat yang menarik pada pertemuan tersebut adalah “Kita terlalu banyak mikir, jadinya semua menjadi masalah”. Mungkin yang dimaksud di sini adalah kita berhak menikmati waktu saat ini tanpa perlu memikirkan ada apa nanti di depannya. Dalam bahasa yang lebih religius bisa dikatakan kita mensyukuri waktu saat ini. Dengan rasa syukur ini kita menjadi orang yang lebih bisa merasakan apa yang kita dapati. Kita tidak sekedar menjadi orang yang melakukan rutinitas secara jumlah, tapi ada kualitas peristiwa-peristiwa yang kita rasakan. 
Bisa jadi momen-momen itu memberikan kita pelajaran, baik itu lewat peristiwa yang baik maupun buruk. Bisa jadi juga peristiwa kita yang pernah kita alami dan kemudian kita bagi dengan orang-orang menjadi pelajaran untuk orang lain. Satu kalimat lagi yang saya kutip hari itu dari salah satu peserta diskusi adalah “Aku bisa merasakan hidup 100 tahun karena aku mengetahui pengalaman yang dirasakan oleh orang-orang lain. Pengalaman-pengalaman itu menambah pengetahuan aku walaupun tidak aku alami.”

Oleh D. Sudagung
24 Mei 2013

23 April 2013

Perjumpaan dengan Si Dia

Tepat tanggal 23 April 2013, terjadi sebuah perjumpaan unik dengan seorang yang luar biasa unik menurut saya. Sebenarnya petemuan kami sudah diawali sejak tahun 2011. Lantas apa beda perjumpaan dengan pertemuan? Perjumpaan saya artikan sebagai pertemuan tatap muka saya langsung dengan dia. Sedangkan pertemuan adalah saat saya berjumpa lewat tulisan-tulisan dia. Puitis ya bahasanya? Begitulah saya. Sebelum cerita tentang saya tambah panjang menghiasi tulisan ini kita kembali ke bahasan utamanya, Si Dia.
Sebuah pertemuan yang tidak direncanakan sampai dengan seminggu lalu. Waktu itu saya melewati jalan kampus dengan kebiasaan cuci mata. Cuci mata itu bisa dengan melihat wanita, pemandangan alam, suasana kampus, dan spanduk-spanduk.  Terpampang sebuah spanduk besar di dekat gerbang masuk kampus yang pada tengahnya tertulis nama Tere Liye. Otak saya langsung berpikir memutuskan saya harus datang. Meskipun saat itu otak saya tidak bisa memutuskan untuk segera melakukan pengereman atau balik arah karena motor saya sudah terlanjur melaju kencang. Ya, janji itu pun dibuat dalam otak saya pada tanggal 23 April 2013. Lantas saya menghubungi seorang kawan yang juga minat yang sama dengan Si Dia. Kami sama-sama punya cerita sendiri soal awal pertemuan kami dan pertemuan itu sangat berkesan buat kami dan saya pribadi.
Sesampai di fakultas ingatan tentang Si Dia sedikit hilang karena kegiatan yang saya lakukan di sana ditambah dengan guyur hujan. Hujan memang musuh besar dalam kegalauan saya. Oke, maaf kembali lagi ini bukan tentang saya tapi tentang Si Dia. Kisah perjumpaan ini berlanjut dengan usaha saya pontang panting mencari cara untuk merealisasilkan janji dengan Si Dia. Sepulang dari kampus ternyata tidak ada spanduk tentang Si Dia di pintu keluar. Kecewa karena harus memutar balik ke gerbang masuk, tapi kekecawaan lebih besar dibanding usaha saya untuk memutar balik. Rencana cadangan adalah browsing di internet, mulai dari google sampai web kampus, hingga ketemu sebuah akun twitter yang me-retweet info dari panitia. Harapan itu muncul lagi kawan. Tanpa basa-basi saya ikutan retweet dan mem-followakunnya sambil tidak lupa simpan nomor kontaknya. Berhubung sudah jam 11 malam, saya urung menghubungi Sang Perantara.
Keesokan paginya saya harus datang pagi sekali ke kampus karena ada tugas negara melatih para prajurit perang futsal jurusan. Nasib baik dari Langit mempertemukan saya lagi dengan selembar besar spanduk yang sama tapi di gerbang bawah. Tanpa menunggu lama saya menghubungi Sang Perantara untuk membuat janji ketemu Si Dia. Sedikit negosiasi karena Sang Perantara menyebutkan jam 9 pagi sebagai syarat untuk bertemu menyepakati harga, tetapi akhirnya Sang Perantara masih menyediakan jam 3 sore. Baik, sepakat dan saya melanjutkan melatih.
Jam 3 dan saya terlambat karena baru bisa hadir pukul setengah 4. Nasib baik ternyata Sang Perantara masih menunggu di situ dan ditambah sebuah kabar gembira, beli 2 gratis 1. Kebetulan saya mau beli 2 janji dan bonusnya gratis 1 janji lagi. Sedikit masalah baru muncul, untuk siapa 1 janji ini? Nanti saja pikirku. Ada satu orang yang ingin diajak, tapi mengingat rutinitasnya kemungkinan itu kecil untuk bisa menghadirkan ia di janji itu. Negosiasi panjang dengan sahabat yang mendapat hak tiket kedua tentang siapa yang akan kita ajak menepati 1 janji lagi. Beberapa nama sempat direkomendasikan hingga pada hari H, sahabat kami yang kebetulan datang dari Bandung datang ke kostan. Memang hobi baca novel dan tulis menulis, langsung saya sergap dengan ajakan ikut. Sedikit penolakan karena dia belum pernah baca tulisan Si Dia, saya balas dengan menyodorkan “Rembulan Tenggelam Di Wajahmu”. Hingga deadline jam 3 sore pada tanggal 23 April 2013 masih galau sahabat saya sampai akhirnya dia memutuskan ikut menepati 1 janji gratis itu.
Sampai di tempat perjumpaan kami, duduk menunggu yang mana sih muka Si Dia? Kayak mana sih perawakannya dan kayak mana sih orangnya? Karena jujur dari sejak pertemuaan pertama, kedua, dan ketiga saya masih belum tahu yang mana Si Dia ini. Bahkan sehari sebelum perjumpaan saya sempat searching di internet hanya sepotong foto seorang suami memotret istri dan anaknya. Sebatas itu saja yang saya tahu dari wajah Si Dia. Tiga kali bertemu lewat “Sang Penandai”, “Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah”, dan “Rembulan Tenggelam di Wajahmu” tidak cukup hingga saya sejak bertemu pertama kali lewat “Sang Penandai” sepakat dengan diri saya bahwa Si Dia ini hebat. Salah satu tulisan yang menginspirasi dan mungkin kemudian waktu mudah-mudahan saya disempatkan Tuhan menulis tentang tiga pertemuan saya.
Si Dia muncul dengan setelan anak muda, santai, nyantai, dan jauh dari bayangan saya. Memakai kaos lengan panjang, celana lapangan, dan semacam sepatu gunung. Badan kurus, rambut rada cepak, kalau kata sahabat saya mukanya culun. Well, itu kesan pertama pertemuan kami. Dalam bayangan saya orang ini rambutnya gondrong dan bertubuh gempal. Kecewa? Tidak, karena itu hanya rekayasa imajinasi saya dan bersyukur sempat bertemu dengan Si Dia. Inilah Darwis Tere Liye yang saya kenal lewat tulisan “Sang Penandai”. Mungkin yang lebih Anda kenal dengan “Hafalan Sholat Delisa” atau “Bidadari-bidadari Surga”. Jangan tertipu kawan dengan perawakannya yang culun. Gaya bicaranya persis sosok Ray, yang dikisahkan dalam “Rembulan Tenggelam di Wajahmu”, menguasai dan menusuk.
Sepanjang perjumpaan kami, Bang Darwis (begitu sapaan dalam perjumpaan itu) mengawali dengan kisah 3 orang mahasiswi kedokteran. Mereka bertiga adalah sahabat satu kampus, satu kelas, dan satu asrama bahkan. Setelah disahkan menjadi dokter mereka berjanji dalam sepuluh tahun mereka akan bertemu kembali dan melihat siapa diantara mereka yang paling banyak pasiennya.
Sepuluh tahun berlalu terjadilah reuni tiga sahabat tersebut. Dokter A menjadi seorang dokter umum di kotanya. Dokter umum yang sangat amat ideal. Baik hati, ramah, sering memberikan pelayanan gratis bagi yang tidak mampu dan banyak dikunjungi oleh pasien saat membuka praktek. Terhitung sampai puluhan ribu pasiennya dalam 10 tahun. Dokter B memilih menjadi dokter spesialis penanganan bencana. Meskipun bencana tidak rutin setiap saat, tapi kalau sudah terjadi seorang dokter spesiali bisa menangani ratusan sampai ribuan pasien. Jumlah pasien yang dicapai hampir sama sekitar puluhan ribu pasien. Giliran Dokter C berkisah yang hanya bilang saya selama 10 tahun ini hanya merawat 2 pasien. Bagaimana bisa? Ternyata sejak dia lulus, pulang ke kota asalnya, dan menikah ternyata Ibunya sakit keras dan lumpuh. Hingga 5 tahun setelahnya Si Ibu meninggal dunia. Nasib ternyata masih belum berbaik hati, suami Dokter C ini juga menderita sakit yang sama selama 5 tahun. Jadi, pekerjaan si Dokter C hanya merawat ibu dan suaminya. Hanya itu. Tapi, Dokter C punya rahasia kecil. Dalam 1 dan 2 tahun pertamanya merawat Si Ibu dia merasa frustasi karena ia sebagai lulusan kedokteran hanya bisa merawat seorang ibu dan tidak bisa mendapatkan apa yang bisa didapatkan oleh dokter muda yang lain. Hingga di tahun ketiga dia mulai bisa berdamai dengan perasaannya dan memutuskan menulis pengalaman dan ilmunya selama merawat Si Ibu di blog. Tanpa terasa hitungan waktu berjalan seorang editor di salah satu penerbit melihat harta karun ini dan memutuskan menghubungi Dokter C untuk menerbitkan tulisan-tulisannya dalam sebuah buku. Tidak hanya 1 buku tapi menjadi 5 buah buku, mulai dari merawat ibu sampai ilmu kedokteran baru dengan ramuan herbal. Buku itu mencapai jutaan kopi, memberikan manfaat bagi banyak orang dan ternyata buku ini yang juga dipakai oleh teman-temanya tadi. Jadi, Dokter manakah yang paling banyak memiliki pasien?
Perjumpaan kami dilanjutkan dengan beberapa sesi tanya jawab dan diawali dengan salah seorang penanya yang bertanya, “Kenapa tidak memasang profil Bang Darwis di buku?“ Jawaban yang bijak dari seorang Darwis Tere Liye adalah “Tidak ada urgensinya penulis muncul di mana pun. Saya menghargai para penulis yang hendak menulis profil dan akhirnya diketahui banyak orang. Saya juga berharap orang lain sebaliknya menghargai saya dengan prinsip saya untuk tidak meletakkan profil saya.” Bang Darwis percaya pada prinsip menulislah banyak hal dan membagikan banyak hal. Tanpa harus berharap pada likes dan comment. Karena penulis yang baik tugasnya adalah menulis. Begitulah sesi awal tanya jawab yang terjadi.
Kemudian Bang Darwis menambahkan lagi dengan sedikit kisah kebahagiaan dia sebagai penulis. Suatu ketika di pesawat ada orang di sebelah saya membaca karya saya dan ia sambil malu-malu menutup muka menangis tanpa tahu kalau di sebelahnya itu ada penulisnya. Atau saat menunggu di bandara  saya melihat orang yang membaca karya saya tanpa tahu orang yang menulisnya melewatinya. Saat menonton Hafalan Sholat Delisa di bioskop bisa melihat banyak anak kecil yang bisa mengucapkan “Aku sayang Mama”. “Itu adalah kebahagiaan buat saya, itu adalah achievement yang luar biasa buat saya.”, begitu Bang Darwis menyampaikan.
Pesan kedua dari perjumpaan kami adalah menulis itu butuh amunisi. Ibarat mengisi 6 gelas teko dengan sebuah ceret berisi air, kalau air di dalam ceret itu habis maka tidak akan terisi gelas-gelas itu. Tapi, saat kamu punya selang air yang terhubung ke mata air pegunungan bukan cuma 6 gelas yang bisa kamu isi melainkan 1 tangki air pun bisa kamu isi. Ini adalah pesan kedua Bang Darwis buat kita-kita yang punya keinginan menulis.
Pesan selanjutnya dari Bang Darwis adalah “Penulis yang baik cinta dengan dunia tulis menulis tanpa terpaksa. Ibarat buang air besar kalian tidak pernah terpaksa untuk melakukannya. Cinta itu ada karena terbiasa menulis.” Simpel bukan, semua bermula dari cinta. Kalau cinta terus mau apa? Gunung tertinggi juga akan didaki atas nama cinta, laut terdalam juga bisa diselami atas nama cinta. 1 kata yang punya banyak motivasi dan kekuataan, Cinta.
Perjumpaan ini berlanjut pada pertanyaan kisah dulu Bang Darwis mulai merintis menulis fiksi. Beliau bilang, “Saya memiliki 2 pilihan saat itu, pertama menjadi kolumnis tetap yang akhirnya menjadi pengamat ekonomi politik. Atau kedua saya menjadi penulis fiksi dan menjadi orang yang bermanfaat untuk orang banyak. Simpel, konkrit, dan bermanfaat. Saya bisa menulis apa saja dengan menjadi penulis fiksi.” Lagi-lagi kesederhanaan pola pikir yang tersampaikan dengan sangat sederhana tapi punya makna yang lebih dari sekedar kata S.E.D.E.R.H.A.N.A. Kita harus punya manfaat bagi orang lain. Ini pesan ketiga yang bisa saya petik dari perjumpaan kami.
Sebuah kalimat hebat lagi yang meluncur dari Bang Darwis adalah “Apakah kalian mau bertanggung jawab terhadap setiap tulisan kalian? Bertanggung jawab terhadap setiap paragraf yang kalian tulis?”. Ini adalah kalimat nasihat agar para penulis ataupun calon penulis memperhatikan dan mempersiapkan apa yang ditulis. Karena dampak dari tulisan Anda bukan main-main. Penafsiran itu datang dari para pembaca dan bisa saja terjadi salah tafsir yang justru mempengaruhi pembaca tersebut. Maka, dari itu beliau mengisahkan dalam menulis “Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin” sangat berhati-hati supaya tidak salah pembaca menafsirkan dan tidak bisa dipungkuri masih ada saja yang salah menafsirkannya.
Melanjutkan perjumpaan kami dengan sedikit perumpamaan, manusia modern menulis 1000 kata tiap hari. Bayangkan dalam satu tahun manusia modern menulis 365.000 kata. Sedangkan satu novel rata-rata berisi 50.000 kata. Idealnya manusia modern bisa membuat 7 buah novel dalam setahun. Tapi, itu tidak terjadi dan apakah kalian akan tetap dalam kesia-siaan itu? Bangsa Indonesia merupakan salah satu yang masuk dalam kategori tersebut. Bayangkan dalam sehari ada jutaan update status Facebook dan Twitter dari orang-orang Indonesia. Tapi, hanya sedikit yang benar-benar menulis.
Salah satu kalimat inspirasi lainnya datang dari Bang Darwis. Kalimat ini yang beliau sampaikan hampir di setiap workshop atau seminar penulisan. “Saya hanya menyalakan api kecil di dada kalian, tapi yang menentukan api itu menyala besar atau malah padam adalah kalian sendiri.” Karena yang tahu apa yang nantinya kita tulis adalah diri kita dan itu ada di dalam diri kita. Mari kenali diri sendiri, mungkin begitu maksud Bang Darwis. 
“Tulisan tidak harus megah dan hebat, yang penting kalian terus menulis. Tidak berharap like dan comment. Konsisten menulis. Jangan remehkan sekecil apapun tulisan Anda, karena kita tidak tahun akan sampai di mana gaungnya.” Ini juga kalimat yang sangat inspiratif dari Bang Darwis. Perumpamaan dari beliau adalah saat kalian rutin menulis dan post di blog misalnya, lihat dalam 3-5 tahun lagi maka tulisan itu akan jadi harta karun yang paling berharga buat kalian. Memang tidak ada yang tahu sampai ke mana manfaat tulisan-tulisan kita.
Menutup perjumpaan kami setelah hampir 1 jam bertatap muka, Bang Darwis menyampaikan dua buah cerita lagi. Cerita pertama tentang seorang anak perempuan usia 15 tahun kira-kira kelas 1 SMA yang hidupnya berantakan, orang tuanya cerai dan beban hidupnya berat datang di sebuah workshop. Ia mulai menulis untuk menumpahkan gundah gulana kekesalannya. 1-2 tahun berjalan dia masih menulis tentang kekesalannya dan di tahun ketiga dia mulai menulis tentang harapan-harapan. Meskipun setiap beberapa bulan sekali ia meminta Bang Darwis mengomentari, tetap saja Bang Darwis dengan prinsipnya menolak karena kita sudah sepakat kita menulis tidak berharap likesdan comment kata beliau. Sampai suatu waktu Si Anak ini bercerita kalau ternyata ada satu anak juga di seberang pulau sana yang punya nasib yang sama bahkan ingin bunuh diri. Hingga ia menemukan tulisan Si Anak ini dan itu merubah kehidupannya karena ia merasa ada teman senasib sepenanggungan. Ajaib, tulisan kecil tersebut mampu berdampak besar pada seorang anak lainnya.
Perjumpaan kami akhirnya ditutup dengan kisah persahabatan Burung Pipit, Penyu, dan Sebatang Pohon Kelapa. Kisah ini bermula ketika mereka bertiga saling bercerita kisah petualangan masing-masing. Burung Pipit yang terbang menjelajahi langit telah sampai ke belahan dunia lain dan mengunjungi berbagai macam kota-kota baru yang berbeda-beda. Pun demikian Penyu yang berenang menyeberangi samudera menuju peradaban-peradaban baru yang berbeda dengan tempat asal mereka. Tapi, apalah daya Sebatang Pohon Kelapa yang dari sejak ia lahir sampai sekarang hanya berdiri memandangi matahari yang terbenam dan terbit. Namun, ia punya sebuah rahasia kecil. Buah kelapanya yang jatuh setiap kali dibawa ombak akan menuju ke ujung pantai yang lain dan ujung negeri yang lain. Ia tumbuh menjadi pohon kelapa lagi  dan terus begitu hingga anak peranakannya telah mencapai berbagai macam ujung dunia baru. Jadi, pohon kelapa yang kulihat di negara seberang sana adalah anak-anakmu? Begitu tanya Burung Pipit dan Penyu. Ya, memang Sebatang Pohon Kelapa tidak beranjak dari tempatnya tetapi ia menyebar buah-buahnya untuk menggapai ujung dunia yang lain.
Kesan perjumpaan pertama yang amat dalam. Berbagai kisah yang diceritakan sangat bermakna. Tidak salah penilaian awal saya sejak bertemu lewat “Sang Penandai” bahwa ini orang beda, ini orang hebat. Semoga saya dan Anda sekalian bisa menikmati membaca tulisan Bang Darwis atau bahkan kita juga jadi bagian dari penulis yang menggaungkan manfaat ke banyak orang lain tanpa berharap likes dan comment.
Ditulis di suatu pagi tanggal 24 April 2013.
Oleh D. Sudagung

27 October 2011

Kumaha Aing We

Reputasi?

How do I Build my Reputation?

Pertanyaan di atas memerlukan jawaban sebuah proses. Proses yang saya lakukan dalam membentuk reputasi terhadap diri saya pribadi. Selama ini prinsip yang saya anut adalah biarlah orang menilai apa pun terhadap diri saya, karena inilah saya apa adanya. Untuk apa menutup-nutupi kekurangan kalau kekurangan itu adalah memang bagian dari diri saya pribadi. Selain itu, yang juga menjadi prinsip saya adalah biarkan orang lain menilai tanpa perlu dipamer-pamerkan. Mereputasikan diri saya istilahkan sebagai melakukan tindakan yang apa adanya sebagaimana saya biasanya.

Apa yang saya lakukan adalah karena saya ingin melakukannya dan mudah-mudahan tidak ada rasa kesombongan karena ingin dipandang baik oleh orang lain. Secara pribadi saya lebih menghargai orang-orang yang berani menunjukkan jati dirinya apa adanya. Tanpa harus memakai topeng. Tanpa harus mengenakan pakaian-pakaian yang bertujuan memperindah tampilannya di depan orang lain. Buat apa Anda terlihat cantik atau Anda terlihat indah jika di dalam keterlihatan cantik dan keterlihatan indah itu Anda sejatinya jelek?

Reputasi adalah bagaimana penilaian manusia melihat seseorang atau dalam kata lain bagaimana seseorang dilihat oleh manusia lainnya. Satu poin yang saya garisbawahi adalah reputasi merupakan bentukan pemikiran dan penilaian manusia yang tidak akan pernah lepas dari “subjektifitas”. Penilaian secara manusia dapat berubah-ubah tergantung seberapa subjektif penilai tersebut. Faktor-faktor kedekatan dan yang paling utama adalah faktor kemanusiaan (baca: rasa tidak enak) kepada kerabat atau orang yang kita kenal akan sangat mempengaruhi penilaian. Hal ini yang coba saya angkat bahwa mencari reputasi yang serba subjektif dan manusiawi ini bukanlah menjadi tujuan utama.

Utopiskah saya? Bahkan mendefinisikan utopis itu terlalu tinggi bagi saya. Tapi, begitulah adanya dan begitulah kenyataan duniawi yang sering kita temukan. Saya dinilai baik atau saya dinilai buruk tergantung si penilai atau si manusia tersebut. Apalah arti penilaian baik dari manusia jika saya tidak mendapat nilai baik dari Sang Pencipta. Seperti itulah kurang lebih ilustrasi jalan yang saya tempuh dalam rangka mereputasikan diri saya. Manusia juga bisa salah, tapi Allah tidak akan salah. Maka dari itu walaupun orang lain menilai saya adalah orang baik atau buruk bukanlah menjadi soal, karena yang lebih tahu apa yang saya perbuat adalah saya dan Allah.

Reputasi atau penilaian dari orang lain menurut saya adalah sebuah koreksi pribadi dan bukan menjadi suatu tolak ukur kepuasan dalam melakukan hal yang baik. Jika menurut orang lain itu adalah salah atau buruk, maka saya harus melihat rekaman tindakan saya dan menjadikan pelajaran. Kemudian jika orang menilai itu baik, maka tidak kemudian saya berbangga hati dan membusungkan dada karena hal tersebut tidak lepas dari tuntunan Allah. Karena saya yakin yang menilai dengan adil adalah Allah. Untuk itu ada sebuah pernyataan yang saya dengar dalam sebuah ceramah yang juga menjadi salah satu penyemangat saya adalah “Lakukanlah yang kamu yakini benar dan jangan saling menyalahkan kepada orang yang berbeda jalan dengan kita. Karena yang akan memberikan penilaian di hari akhir adalah Allah”.

Dari sebaris kalimat indah tersebut, saya kemudian memantapkan diri untuk insyallah jika Allah berkenan saya akan tetap melakukan sesuatu dengan cara dan gaya saya sendiri. Meningat reputasi bagi saya adalah bagaimana tetap menjadi diri sendiri. Dalam jargon Sunda, “Kumaha aing wae!”

diposting pertama kali di :

http://www.facebook.com/groups/150466301718640/doc/151329681632302/

11 August 2011

Semangat, Berbeda, dan Tujuan

Mencari semangat tidak hanya lewat mata, mencari semangat tidak hanya lewat kata. - Adityo D. Sudagung dalam sebuah inspirasi malam yang membuatku tetap terjaga



Sepenggal kalimat yang abstrak dan tanpa makna, mungkin saja. Tapi, sebaris kata-kata ini menerjemahkan beragam ide dari penulis. Apakah semangat? Bahkan penulis bingung menjelaskan "semangat" dalam satu atau lebih kata. Yang penulis tahu, semangat itu saat kita naik. Apa lagi itu saat kita naik? Penulis mengartikan istilah itu sebagai kondisi dimana jantung berdegup menggebu, aliran darah ke otak sangat lancar, adrenalin meningkat, dan mata ini terus terjaga saat tangan ini menari di atas deretan huruf di sebuah alat elektronik.

Sempit sekali definisi tersebut, kenapa? Karena jika dirangkai dan dimaknai, maka semangat hanya saat Anda mengetik lewat laptop atau komputer. Ternyata tidak hanya sekedar itu saja kondisinya. Laptop atau komputer penulis artikan hanya sebagai salah satu media. Salah satu media, bukan berarti satu-satunya media menyalurkan semangat.


Definisi singkat dari sepenggal kalimat di awal penulis resapi dan rasakan mungkin saat penulis sedang menulis tulisan ini di laptop. Lain halnya jika penulis sedang bermain futsal atau melakukan kegiatan lainnya. Akan tampak dan kedengaran beda lagi. Toh, itu bukanlah masalah yang besar kawan!


Beda tidak harus membeda-bedakan. Berbeda menambah wawasan kita, berbeda membuat kita menjadi lebih berpikir. Berbeda menunjukkan kita berjuta ragam aspek dari sebuah kata yang kita kenal "kehidupan".

Berbeda juga mampu membuat diri kita naik (definisi awal dari semangat). Penulis berbeda prestasi dengan rekan yang seprofesi, penulis akan lebih me"naik"kan diri. Anda pun demikian!

Semangat muncul saat Anda mempunyai tujuan, itu pasti! Pak Tani ingin memanen seratus karung padi sebulan, Pelajar ingin menjuarai lomba olimpiade, Atlet ingin mendapat medali, dan tujuan-tujuan lain memacu diri kita. Ingin lebih baik, tanamkan semangat dengan menancapkan tujuanmu, Kawan!

110811

Fenomena Bersepeda

Akhir-akhir ini saya sering melihat pertumbuhan aktifitas bersepeda yang semakin menjamur. Setiap sore ada sekumpulan orang-orang bersepeda di kampus atau di jalan-jalan Jatinangor. Di Bandung sendiri, tidak hanya kalangan remaja tapi bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak, hampir semua kalangan bersepeda. "Jamur" sepeda ini sudah merebak mulai setengah tahun yang lalu. Sampai tadi sore saya berpergian ke Bandung menyusuri jalan veteran, hampir di sepanjang kanan-kiri jalan terlihat toko sepeda. Dari kelas atas sampai kelas menengah ke bawah.

Beberapa tahun sebelumnya, menurut hemat saya bersepeda itu hanya merupakan budaya kelas bawah. Dalam studi budaya disebut dengan low culture. Karena selama beberapa tahun belakangan, bersepeda di jalanan kota hanya dilakukan oleh orang-orang kelas bawah, seperti buruh, tukang, dan lainnya. Sepeda merupakan alat transportasi kelas bawah di Indonesia. Mungkin sempat ada kelompok sepeda ontel yang mulai menyemarakkan "low culture" ini, tapi masih belum terlihat sebagai rutinitas karena mereka adalah komunitas.


Di satu sisi, menjamurnya "virus" bersepeda ini memberikan keuntungan bagi para pemiliki dan penyedia jasa bengkel sepeda atau penjual sepeda. Terutama mereka yang di kelas menengah ke bawah. Setengah tahun lalu, ketika saya sedang mengunjungi salah satu bengkel sepeda di bilangan cileunyi, sempat terlintas pikiran saya "Adakah yang mau membeli sepeda sekarang-sekarang ini? Apakah sepeda akan punah?".

Pertanyaan ini mengisi kepala saya mengingat "invasi" kendaraan pribadi semacam motor dan mobil yang semakin banyak. Tapi, dengan berkembangnya kesadaran masyarakat akan hidup sehat kekhawatiran saya setengah tahun lalu mulai memudar. Hampir semua kalangan bersepeda akhir-akhir ini. Bersepeda tidak lagi dipandang sebagai aktifitas orang-orang kelas bawah.

Namun, di sisi lain pemikiran saya kembali mempertanyakan kondisi yang ada. Memang secara ekplisit bersepeda menjadi budaya populer dan digandrungi semua kalangan, tetapi dibalik budaya bersepeda ini muncul sedikit hal yang mengganjal pikiran saya. Yaitu, objek sepedanya itu sendiri yang berkeliaran di jalanan.

Kebanyakan yang saya amati sepeda yang digunakan itu bukanlah sepeda yang dahulu dipakai orang-orang kelas menengah ke atas yang mempertahankan budaya bersepeda itu, tetapi sepeda-sepeda yang berkeliaran mengikuti pergeseran kaum borjuis itu sendiri. Sepeda-sepeda bermerk dan beraneka model trendy dengan harga yang "wah" mencapai nominal jutaan justru yang banyak digunakan dan diminati oleh masyarakat. Saya melihat fenomena sebagai dampak dari pergeseran kaum borjuis yang melakukan aktifitas bersepeda ini. Image borjuis tidak lepas kendati melakukan aktifitas "low culture". Bahkan "culture" bersepeda ini yang terpengaruh bawaan orang-orang borjuis.

Sekali lagi muncul kekhawatiran saya, "Apakah bersepeda akan menjadi olahraga mahal?" "Apakah bersepeda menjadi "high culture"?" "Apakah ini akan memberikan efek dan stigma bahwa bersepeda jadi milik orang-orang borjuis saja?"

Dasar pertanyaan saya di atas adalah kondisi di lapangan yang memperlihatkan realita bahwa "sepeda-sepeda" yang berkeliaran adalah benda-benda yang tergolong mahal. Ketika orang-orang borjuis mengayuh sepeda jutaan rupiah dan meramaikan jalanan, ketika itu saya khawatir akan terjadi lagi kesenjangan dengan kaum proletar. Minder karena sepeda yang berbeda kelas, serta dari penampilan yang membuat bersepeda seolah elit dengan setelan komplit dan sebagainya.

Tadinya bersepada hanya budaya orang-orang proletar, kini mulai menjadi budaya populer. Akan tetapi terdapat kemungkinan menjadi budaya orang-orang borjuis mengingat dominasi sepeda-sepada yang harganya "wah" tadi. Memungkinkan terjadinya kesenjangan antara borjuis dan proletar lagi, namun kali ini bukan karena dikucilkan tapi karena naiknya kelas budaya bersepeda. Pembahasan ini tidak bertujuan menyudutkan atau menyatakan pesimistis, tapi hanya sekedar pemikiran seorang manusia yang mencoba bertanya akan realita di sekilingnya. Semoga pergeseran menjadi "high culture" itu tidak terjadi dan bersepeda bisa menjadi momen menyatukan bangsa!

290511

26 April 2011

Military Industrial Complex Dalam Film Lord of War


Military Industrial Complex merupakan suatu istilah yang dimunculkan oleh Presiden Amerika Serikat, Dwight D. Eisenhower, pada tahun 1961 dalam sebuah pidatonya. Konsep ini menjelaskan mengenai hubungan antara pihak yang bertugas mengatur perang (militer, pemerintah, dan kongres) dan perusahaan-perusahaan yang memproduksi senjata dan perlengkapan untuk perang (industri).[1]Hubungan antara kedua pihak ini merupakan sebuah hubungan mutualisme dimana keduanya mencari keuntungan sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Pihak pemerintah dengan kepentingan persenjataannya, sedangkan pihak penyedia senjata dengan kepentingan keuntungan yang didapat.

Eisenhower memperingatkan kepada rakyat dan pemerintah Amerika Serikat untuk menghindari penyalahgunaan dari military industrial complex ini. Karena situasi saat itu adalah Amerika Serikat sebagai salah satu negara pemenang perang, sehingga dituntut untuk mampu menjaga “perdamaian” yang tercipta pasca Perang Dunia II. Konsep ini juga berlatar belakang situasi dunia dimana negara mencoba menempatkan dirinya sebagai sentral dari sistem keamanan internasional. Sehingga negara-negara ini berusaha dengan segenap upaya untuk memenuhi kebutuhannya akan perlengkapan dan senjata militer. Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan atas senjata, tapi untuk menempatkan negaranya sebagai negara yang terkuat dalam hal persenjataan. Secara logika hal ini akan membuat negaranya itu aman karena dalam perhitungan perang, mereka jauh di atas negara lainnya.


Namun, dampak dari aktifitas ini membuat negara lainnya yang merasa terancam. Karena tidak ada jaminan negara yang mempunyai persenjataan terbanyak ini tidak melakukan invasi ke negara lain. Sudah menjadi hakikatnya jika seseorang memiliki kekuatan yang lebih akan menyerang seseorang yang kekuatannya lebih rendah. Ditambah lagi jika negara yang akan diserang memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh negara penyerang (misalnya, ketersediaan minyak bumi). Untuk itulah negara-negara lain juga tidak mau kalah mempersenjatai militernya dengan membeli senjata dari penyedia senjata dan perlengkapan perang. Hal ini menimbulkan apa yang kita kenal dengan arm race.

Eisenhower juga memperingatkan kepada pemerintah dan penyedia senjata perlengkapan perang, khususnya di Amerika Serikat, untuk menjaga konsistensinya. Konsistensi untuk tidak menyalahgunakan kewenangan dan kepentingan yang dimiliki. Ketika negara merasa memiliki kebutuhan yang tinggi akan senjata, maka negara ini akan mengupayakan segala cara untuk bisa membeli persenjataan ini. Begitu pula dengan penyedia senjata yang memiliki orientasi materi (uang), dimungkinkan melakukan transaksi dengan siapa saja untuk memenuhi kepentingan mereka akan keuntungan uang. Kekhawatiran Eisenhower ini tercermin dalam sebuah film berjudul “Lord of War”.Film ini berkisah tentang seorang pemuda asal Ukraina bernama Yuri Orlov (diperankan oleh Nicolas Cage). Di sepanjang film, ia juga membawakan narasi tentang bagaimana perjalanan hidupnya hingga bisa menjadi seorang pedagang senjata gelap.[2] Lewat ceritanya itu dia menjelaskan secara mendetail tentang bagaimana konspirasi internasional bekerja dalam memasok senjata ke seluruh pelosok negara di dunia.[3]

Saat usianya masih remaja, Yuri sekeluarga bermigrasi dari kampung halamannya di Ukraina (saat masih dikuasai Uni Soviet) untuk mengadu nasib di Amerika Serikat.[4] Saat menginjakkan kaki di Amerika, bisnis perdagangan senjata gelap sedang ramai-ramainya.[5] Bersama sang adik, Vitaly (Jared Leto) ia pun mulai masuk ke dalam sistem perdagangan itu dan meraup keuntungan besar dari transaksi-transaksi yang dilakukannya di berbagai penjuru dunia.[6] Sedikit cuplikan film ini memperlihatkan kepada kita bahwa kebutuhan akan senjata pada saat itu (1980an) sangatlah tinggi. Bahkan diceritakan Yuri Orlov ini melakukan semua pendekatan kepada siapa saja untuk bertransaksi senjata. Mulai dari kelompok pemberontak, mafia, bahkan pihak penyedia senjata bagi pemerintah Amerika Serikat. Ia melakukan perdagangan illegal ini secara bersih dan dengan melakukan berbagai trik, mulai dari memiliki banyak pasport, pengubahan dokumen barang, penggantian nama kapal, serta menimbun kentang untuk menutupi senjata yang dibawa dalam kargo. Ia kemudian mendapat pasokan persenjataan yang banyak, sejak Uni Soviet runtuh tahun 1990an. Penyelundupan besar-besaran dari Uni Soviet ke Amerika merupakan jalur baginya untuk mendapat keuntungan besar, dengan bantuan kekerabatannya dengan seorang pemimipin militer Ukraina yang juga pamannya, Dimitri. Aksinya ini sempat diendus oleh interpol, akan tetapi ia masih bisa mengelak. Sejak kejadian di Ukraina ini, ia menjadi target sasaran interpol.

Prinsip yang dianut oleh Orlov adalah ia menjual senjata kepada siapapun yang bisa memberikan uang kepadanya. Tanpa memikirkan untuk apa senjata yang dijual tersebut digunakan. Hal ini sejalan dengan pemikiran Eisenhower yang mengkhawatirkan terjadi penyalahgunaan atas industri senjata, khususnya di Amerika Serikat. Sudah menjadi rahasia umum bahwa perdagangan senjata gelap seperti ini eksis dan seolah dibenarkan serta mendapat perlindungan dari otoritas negara tertentu. Terutama negara yang mempunyai kepentingan untuk memenuhi kebutuhan atas senjatanya. Sejalan dengan negara-negara ini, para penyedia senjata seperti Orlov menggunakan hal itu untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.

Kesemua penyimpangan ini menimbulkan suatu kondisi keresahan, karena bisa saja semua pihak memiliki senjata militer. Lebih parahnya lagi apabila senjata militer ini digunakan dalam suatu konflik di suatu negara. Hal ini dapat dilihat di daratan Afrika dimana banyak terjadi pemberontakan dan konflik, yang sebagian besar mendapat pasokan senjata dari pedagang-pedagang gelap tersebut. Mungkin di satu sisi, penyedia senjata menjadi kaya atas penjualan ini. Namun, di sisi lain hal ini justru memicu pecahnya konflik karena ketersediaan senjata yang banyak di masyarakat. Penyalahgunaan-penyalahgunaan kepentingan seperti inilah yang memperpanjang cerita kelam manusia di bumi. Ketika manusia masih diselimuti oleh ego dan nafsunya, maka pertumpahan darah atas nama “kepentingan” itu akan terus terjadi.


[3] Ibid.
[4] Ibid.
[5] Ibid.
[6] Ibid.

12 November 2008

Kehidupan Mahasiswa

Masa peralihan dari siswa SMA itu memang penuh perjuangan, apalagi buat para siswa yang "agak malas". Seperti yang kita ketahui, hidup sebagai mahasiswa memiliki tuntutan akademis yang sangat banyak dibandingkan seorang siswa. Contohnya saja, kita dituntut mengerjakan tugas review atau sejenisnya dalam waktu yang telah ditentukan misalnya 1 minggu dan dengan bahan yang banyak pula.

Tidak hanya dari segi akademis, terutama bagi mahasiswa yang ngekost. Cobaan juga bertambah. Mulai dari mengatur keuangan, jadwal makan, mengatur kegiatan, dan sebagainya. Pada intinya bagaimana bisa mengatur diri sendiri di tempat orang.

Masalah yang kerap muncul adalah masalah keuangan. Kebanyakan dari kita mungkin "ringan tangan" alias gampang ngeluarin uang dari dompet karena kepengen ini dan itu. Padahal kita harus wise mengatur keuangan.

Masalah lainnya adalah membagi waktu, kita dituntut mampu membagi dan mengatur waktu dengan baik. Karena 1 detik yang terbuang akan sangat sia-sia. Ibaratnya ketika kita harus menyelesaikan 10 halaman tugas, tapi karena kita lalai sehingga tugas yang mestinya dapat selesai dalam waktu 3 hari jadi ketetaran dan molor sampai 1 minggu.

Tapi, over all semua tergantung Anda masing-masing. Apakah sudah siap menjadi mahasiswa dengan kewajiban dan tuntutan yang lebih besar atau akan tetap nyantai seperti anak SMA?

The choice is yours!!