Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

31 May 2013

Surat Cinta Untuk Persipon

Keprihatinan saya terhadap perkembangan klub sepakbola kota kelahiran saya, Persipon, muncul sejak 2010. Dua hal yang menjadi alasan adalah pertama saya menemukan ketika sedang melintasi jalanan di Pontianak ada lebih dari 3 orang memakai jersey Persib Bandung. Kedua, saat saya di Bandung iseng ingin mencari tahu tentang Persipon dari sini lewat internet. Website resmi tidak punya, akun twitter punya tapi kurang update, halaman facebook Persipon saat itu belum ada. Jadi saya hanya mengumpulkan informasi dari cuplikan-cuplikan berita di koran-koran online. Bahkan untuk mencari yang menjual jersey Persipon juga sangat sedikit. Bahkan saat saya pulang kampung ke Pontianak, berita tentang Persipon mungkin hanya ada di salah satu sudut koran ibukota. Bahkan tahun lalu untuk membeli pernak-pernik atau jersey Persipon saja saya hanya dapat menemukan saat Persipon bertanding. Saat sedang tidak ada pertandingan praktis susah sekali mencari pernak-pernik tersebut. Kesimpulan saya saat itu info dan keberadaan Persipon sangat minim.
Selang 2 tahun sampai sekarang di tahun 2013 saat Persipon menjadi salah satu tim promosi ke Divisi Utama LPI. Saya kembali tergerak untuk mengikuti perkembangan klub ini. Sedikit berdecak kagum karena ternyata saya menemukan fanpage facebook yang sangat aktif. Suatu peningkatan dalam benak saya. Namun, akun twitter yang saat ini menjadi media yang cukup digemari tidak mengalami peningkatan berarti. Untuk website, masih belum ada sampai saat ini. Salah satu berita yang saya baca saat itu adalah Persipon terancam tanpa sponsor. Cukup terkejut karena bagaimana suatu klub di liga tanpa sponsor. Mungkin Barcelona pernah melakukan tradisi tersebut, tapi itu adalah Barcelona dengan nama besar dan sederet prestasi internasional yang wah. Meskipun tampaknya Bank Kalbar bersedia menjadi sponsor karena logonya terpampang di jersey away tim.  Dengan tidak mengecilkan Persipon, tapi apalah nama Persipon di belantika persepakbolaan Indonesia? Bahkan di lingkungan pertemanan kampus di mana masing-masing mengidolakan klub asal daerahnya, ya Persipon hanya masuk dalam list terbawah kalau dirunut popularitasnya. Cenderung menjadi bahan ledekan atau ejekan, “Persipon emangnya maen di mana?” dan sebagainya.
Tapi, terdapat dua berita lain yang menggembirakan yaitu Persipon menjuarai turnamen di Sarawak dan bergabungnya legenda sepakbola Indonesia Kurniawan Dwi Yulianto. Dua berita ini menurut saya merupakan suatu angin segar bagi persepakbolaan Pontianak dan Kalimantan Barat pada umumnya. Dengan segenap pengalamannya mudah-mudahan Kurniawan bisa menggairahkan lagi sepakbola di Pontianak. Bukan tidak mungkin dengan relasi-relasinya yang ada Kurniawan juga ikut mempromosikan Pontianak dan Persipon secara sengaja maupun tidak sengaja. Nilai plus untuk klub kebanggan buda’ Pontianak.
Maka dari itu saya tergerak untuk memberikan beberapa masukan yang menurut saya dapat mendorong kemajuan tim. Pertama, kita mengaktifkanfansclub melalui kegiatan kopdar dan organisasi pendukung yang baik. Bukan rahasia lagi kalau Persib Bandung sangat dicintai Bobotohnya. Ini yang membuat saya iri ketika saya tinggal di Bandung dan hampir semua lapisan tahu dan cinta dengan Persib, mulai dari anak kecil sampai aki-aki (kakek-kakek). Salah satu hal sederhana yang mungkin belum ada di Pontianak, bahkan tahu saja sudah syukur-syukur. Makanya dengan mengaktifkanfansclub  ini akan dibarengi dengan beberapa kegiatan dari para pendukung untuk mempromosikan Persipon di lingkungan masing-masing dan di Kota Pontianak khususnya. Ibarat mata rantai yang tidak pernah putus, jika 1 pendukung Persipon mempromosikan kepada 2 orang saja dan anggaplah pendukung Persipon ada 500 orang. Maka, dalam 1 kali promosi akan terdapat 1000 pendukung baru. Ini memang hanya hitungan kasar, tapi bukan tidak mungkin. Setelah mereka tahu, selanjutnya diikuti dengan beberapa kegiatan promosi lainnya yang membuat mereka tambah tahu hingga jadi cinta. Tak tahu maka tak cinta bukan?
Kedua, kita manfaatkan informasi dan teknologi dengan menggiatkan pemberitaan di dunia maya. Informasi online dapat melalui pembuatan website, pengaktifan info di twitter, dan memelihara berita-berita update di fanpage facebook. Tiga media ini saja dahulu pada tahap awal jika dipertahankan keberadaannya akan meningkatkan informasi tentang Persipon di dunia maya. Bukan rahasia juga kalau manusia Indonesia sangat gemar facebook-an dan twitter-an. Menulis saja di tiga media tersebut, makin banyak menulis makin banyak yang terpaparkan informasinya. Dalam hal ini butuh tim pengumpul informasi dan penyebar informasi yang punya semangat dan dedikasi tinggi. Setidaknya saat ini sudah ada fanpage Persipon (http://www.facebook.com/pages/Persipon/270556003021787?fref=ts) dan twitter @persipondotcom.
Ketiga, seperti yang saya pernah baca di komik-komik Jepang di mana salah satu upaya untuk mempromosikan klub adalah membuat fan day. Kegiatan ini adalah temu fans yang berisi kegiatan ramah tamah antara seluruh bagian dari Persipon mulai dari pemain, pelatih, manajemen, dengan para pendukung. Acara semacam ini juga sering dilakukan oleh Persib Bandung di Bandung. Kita mulai dari ramah tamah kecil-kecilan dulu saja. Bisa diisi dengan hiburan di mana para pemain dan pendukung bernanyi bersama atau makan bersama. Intinya memperkenalkan Persipon ke masyarakat dengan kesan yang merakyat.
Keempat, saya istilahkan kita jemput bola. Saya namakan kegiatan ini “Persipon masok sekolah”. Kenapa ke sekolah? Karena di sekolah terdapat anak-anak muda yang bisa menjadi bibit-bibit pemain atau bibit pendukung di masa depan. Kalau dari kecil saja tidak tahu, bagaimana besarnya mereka tahu ada klub sepakbola bernama Persipon di kota mereka. Seperti acara-acara yang masuk ke sekolah-sekolah, para pemain Persipon bisa melakukancoaching clinic, pertandingan mini soccer, kegiatan seperti mengajarkan hidup sehat ke sekolah-sekolah. Anak-anak sekolah jadi belajar dari pemain bolanya langsung peserta Divisi Utama LPI. Salah satu poinnya adalah mendekatkan anak-anak ke idola mereka. Diharapkan  hal ini akan menjadi salah satu kesan yang akan membekas bagi para anak-anak. “Aku pernah ketemu dengan Kurniawan”, “Aku pernah main bola dengan Kurniawan”, “Nanti aku akan jadi pemain bola seperti Kurniawan”. Saya mencontohkan idola dengan Kurniawan karena dia termasuk salah satu yang bisa menjadi ikon klub. Bisa saja klub juga mengenalkan pemain-pemain lokal yang tidak kalah jago dengan membagi tugas siapa-siapa saja yang ke sekolah A dan sekolah lainnya. Pengenalan pemain lebih merata di sekolah-sekolah. Bisa juga diadakan meet and greet  semua pemain di suatu hari di sekolah-sekolah. Siswa sekolah mana yang tidak senang ada tamu datang dari luar, apalagi ini Persipon yang biasa hanya dilihat di lapangan.
Saran kelima, konsepnya adalah pendukung punya tempat kumpul. Sarannya bisa dua, satu basecamp organisasi pendukung resmi Persipon. Sebagai tempat kordinasi pendukung dan tempat sekedar kumpul-kumpul sesama pendukung. Maaf, sampai saat ini saya kurang tahu ada di mana dan apa namanya. Syukur kalau sudah ada semoga bisa lebih digiatkan dan jika belum ada semoga ini bisa menjadi gagasan yang bermanfaat. Saran kedua untuk tempat kumpul seperti disinggung sebelumnya mengenai kopdar, bisa saja dibikin sebuah kafe bertajuk “Kafe Persipon”. Kafe bisa didesain dengan warna kebanggan Persipon Hijau-Kuning. Selain itu, di dalam terdapat foto-foto pemain legendaris lengkap dengan tanda tangannya. Pemain-pemain yang saat ini mengisi tim juga tidak lupa dipajang. Foto tim musim ini juga dipajang untuk memperlihatkan saat ini siapa saja pemain dan tim pelatih Persipon. Bisa juga dibuat semacam display sejarah jatuh bangun Persipon sampai sekarang. Prestasi-prestasi yang pernah diraih oleh Persipon juga tidak ada salahnya dipajang. Konsep kafenya menurut saya bisa dimulai dengan standar kafe tapi dibuat lebih elegan dan harga yang tidak terlalu mahal. Orang Pontianak sukangopi dan ngumpul kan? Kalau dikemas menarik bukan tidak mungkin dapat menjadi salah satu ikon yang menunjukkan Persipon itu ada di Pontianak. Kafe ini juga menjual pernak-pernik Persipon.
Kemudian, ada usulan juga dijual merchandise resmi Persipon bekerjasama dengan toko-toko buku atau toko-toko olahraga yang ada di Pontianak. Bisa berupa jualan sticker, gantungan kunci, bolpen, notes untuk toko-toko buku dan jualan jersey atau syal untuk toko-toko olahraga. Intinya, Persipon ada di mana-mana dan tidak hanya dijumpai di lapangan atau di sekitar lapangan saja. Ide ini juga bisa dibarengi dengan pembuatan “Official Store Persipon”. Konsep ini bisa juga sekaligus dibarengi dengan “Kafe Persipon” di mana ada kafe ada juga toko.
Ketujuh, Pontianak setiap minggu punya acara seperti Car Free Day atau tempat kumpul seperti GOR. Ini bisa dimanfaatkan pendukung atau pengelolaofficial store untuk jualan merchandise. Saya pernah berkeliling di sekitar GOR dan ada yang menjual jersey klub-klub liga Eropa, tapi yang menjual jersey Persipon atau pernak-pernik Persipon belum saya temukan.  Bisa juga penyedia Kafe Persipon membuka lapak di sini. Intinya sama dengan poin-poin sebelumnya, Persipon ada di mana-mana.
Terakhir salah satu ide saya adalah diadakannya lomba tentang Persipon. Lomba ini bisa diadakan untuk berbagai jenjang umur dan dapat berupa lomba  menulis artikel, menggambar, melukis, membuat poster, lomba grafiti, membuat jingle Persipon atau desain t-shirt. Hasil lomba bisa dipajang di stadion atau diadakan pameran di Mega Mall. Membuat orang mencari tahu dengan mengikuti lomba ini serta mengembangkan kreatifitas masyarakat Pontianak. Lomba ini bisa menjadi tambahan ide-ide segar yang belum terpikirkan untuk mempromosikan Persipon. Jadi, masyarakat juga ikut dilibatkan dalam membangun Persipon.
Saran-saran ini pada intinya bertujuan untuk membuat masyarakat Pontianak cinta dengan Persipon. Caranya adalah dengan semangat Persipon ada di mana-mana dekat dengan pendukung dan Persipon tidak hanya ada di lapangan. Semoga sumbangan ide saya ini bermanfaat dan bisa menggugah pembaca untuk mencintai Persipon dan menyebarkan kecintaan tersebut supaya Elang Khatulistiwa bisa terbang lebih tinggi.

Oleh  D. Sudagung
21 Mei 2013

24 May 2013

Keseharian, Pengalaman, dan Pelajaran-pelajaran Baru

Sampai dengan beberapa bulan terakhir ini saya mengikuti sebuah kegiatanextention course bernama Everyday and Cultural Life di kampus Filsafat dan Budaya UNPAR. Saya direkomendasikan oleh salah seorang keluarga saya yang menurut saya sangat luas wawasannya. Pada awalnya saya berpikir apa salahnya dicoba karena ilmu mungkin bisa datang dari mana saja. Bahasa kasarnya “iseng-iseng” mencari ilmu. 
Suatu pelajaran baru di tempat yang baru buat saya terutama di kampus orang lain. Suatu kajian keilmuan yang selama saya kuliah merupakan salah satu yang bobotnya terberat. Terberat dalam arti keluasan cakupan ilmunya dan cara mempelajari ilmunya. Menurut pemahaman saya mempelajari filsafat adalah kegiatan bertanya-tanya. Meskipun demikian sampai saat ini (pertemuan ke-8) saya belum bertanya secara langsung kepada pemateri.
Acara ini dilakukan setiap hari Jum’at pukul 18.30. Para pemateri pun beragam, meskipun sejauh ini hanya 1 orang yang saya tahu, yaitu Ridwan Kamil. Pemaparan materi setiap minggunya berbeda-beda sudut pandang dengan satu tema yaitu “Keseharian”. Perjuangan para pencari ilmu dari Jatinangor setiap sore antara pukul 5 ke atas menuju Bandung. Jangan bayangkan jauh, macet, dan jika hujannya. Ini sekedar info selingan.
Pada pertemuan pertama saya mendapatkan suatu ilmu yang baru. Pernahkan Anda membayangkan ada sekelompok orang-orang yang membahas “kehidupan sehari-hari” secara keilmuan? “Keseharian” yang biasa kita hanya tahu sebagai rutinitas, seperti saya makan, saya minum, saya belajar, saya bekerja, dan sebagainya itu. Pada pertemuan pertama itu dikupas secara mendalam apa itu “keseharian”. “Keseharian” yang dibahas justru berbeda dengan yang biasa kita tahu. “Keseharian” yang natural adalah yang terjadi saat ini dan ia tidak akan terulang. Ada unsur spontanitas. Diistilahkan oleh Prof. Bambang Sugiharto dengan “the now”. 
Bahkan untuk menjelaskan “keseharian” ini bisa dengan beberapa sudut pandang para tokoh, seperti George Simmel, Walter Benjamin, Henri Lefebure, dan Michel de Certeau. Siapa ini nama-nama yang disebutkan di atas. Bagi saya ini asing, tapi ini jadi hal yang baru yang membuat saya berpikir “O, begitu”. 
Satu hal yang menjadi fokus pertemuan pertama itu adalah “Keseharian vs Modernitas”. Seperti yang saya sebutkan di atas, “keseharian” itu yang saat ini dirasakan dialami. Sedangkan modernitas membawa suatu mekanisme sistem yang membuat kita melakukan rutinitas-rutinitas, contohnya sistem pekerjaan, sistem belajar, sistem komunikasi, teknologi, dan sebagainya. Kesemua sistem ini menuntut Anda untuk melakukan kuantifikasi dengan mengesampingkan kualifikasi. Ada rutinitas yang membuat kita tidak sempat menikmati kualitas saat ini atau the now. Bahkan sesuatu yang kita alami itu membanjiri diri kita tanpa sempat dirasakan. Dikatakan belum selesai kita menonton tv kadang kita sudah harus melakukan panggilan telpon. Atau belum selesai memikirkan jawaban pertanyaan yang satu, kita sudah harus memikirkan jawaban pertanyaan lainnya. Belum selesai pekerjaan yang satu sudah harus mempersiapkan pekerjaan lainnya. Semuanya itu begitu saja berlalu tanpa ada sesuatu yang bermakna dalam keseharian kita.
Meskipun disodorkan suatu solusi untuk menikmati “saat ini” itu dengan menulis pengalaman Anda, tapi saat Anda menulis itu bukan suatu hal yang saat itu Anda rasakan. Dengan Anda menulis pada saat merasakan “saat ini” pun itu berarti Anda mengganggu proses “kekinian” itu. Tapi, setidaknya dengan menulis pengalaman Anda setelah merasakan waktu “saat ini” ada suatu sarana untuk kita mengingat waktu-waktu yang pernah kita nikmati. Dalam bahasa yang praktis kita melukiskan kembali momen yang berarti yang kita rasakan. Momen berarti ini bisa momen paling membahagiakan atau yang paling menyedihkan dalam satu hari Anda.
Pernahkah Anda sekarang benar-benar menikmati waktu yang ada saat ini tanpa terganggu oleh pikiran-pikiran lainnya? Pernahkah ada suatu “waktu” yang membuat Anda merasakan diri kita lepas dari rutinitas yang itu-itu saja? Momen berarti apa yang Anda rasakan hari ini? 
Satu kalimat yang menarik pada pertemuan tersebut adalah “Kita terlalu banyak mikir, jadinya semua menjadi masalah”. Mungkin yang dimaksud di sini adalah kita berhak menikmati waktu saat ini tanpa perlu memikirkan ada apa nanti di depannya. Dalam bahasa yang lebih religius bisa dikatakan kita mensyukuri waktu saat ini. Dengan rasa syukur ini kita menjadi orang yang lebih bisa merasakan apa yang kita dapati. Kita tidak sekedar menjadi orang yang melakukan rutinitas secara jumlah, tapi ada kualitas peristiwa-peristiwa yang kita rasakan. 
Bisa jadi momen-momen itu memberikan kita pelajaran, baik itu lewat peristiwa yang baik maupun buruk. Bisa jadi juga peristiwa kita yang pernah kita alami dan kemudian kita bagi dengan orang-orang menjadi pelajaran untuk orang lain. Satu kalimat lagi yang saya kutip hari itu dari salah satu peserta diskusi adalah “Aku bisa merasakan hidup 100 tahun karena aku mengetahui pengalaman yang dirasakan oleh orang-orang lain. Pengalaman-pengalaman itu menambah pengetahuan aku walaupun tidak aku alami.”

Oleh D. Sudagung
24 Mei 2013

23 April 2013

Perjumpaan dengan Si Dia

Tepat tanggal 23 April 2013, terjadi sebuah perjumpaan unik dengan seorang yang luar biasa unik menurut saya. Sebenarnya petemuan kami sudah diawali sejak tahun 2011. Lantas apa beda perjumpaan dengan pertemuan? Perjumpaan saya artikan sebagai pertemuan tatap muka saya langsung dengan dia. Sedangkan pertemuan adalah saat saya berjumpa lewat tulisan-tulisan dia. Puitis ya bahasanya? Begitulah saya. Sebelum cerita tentang saya tambah panjang menghiasi tulisan ini kita kembali ke bahasan utamanya, Si Dia.
Sebuah pertemuan yang tidak direncanakan sampai dengan seminggu lalu. Waktu itu saya melewati jalan kampus dengan kebiasaan cuci mata. Cuci mata itu bisa dengan melihat wanita, pemandangan alam, suasana kampus, dan spanduk-spanduk.  Terpampang sebuah spanduk besar di dekat gerbang masuk kampus yang pada tengahnya tertulis nama Tere Liye. Otak saya langsung berpikir memutuskan saya harus datang. Meskipun saat itu otak saya tidak bisa memutuskan untuk segera melakukan pengereman atau balik arah karena motor saya sudah terlanjur melaju kencang. Ya, janji itu pun dibuat dalam otak saya pada tanggal 23 April 2013. Lantas saya menghubungi seorang kawan yang juga minat yang sama dengan Si Dia. Kami sama-sama punya cerita sendiri soal awal pertemuan kami dan pertemuan itu sangat berkesan buat kami dan saya pribadi.
Sesampai di fakultas ingatan tentang Si Dia sedikit hilang karena kegiatan yang saya lakukan di sana ditambah dengan guyur hujan. Hujan memang musuh besar dalam kegalauan saya. Oke, maaf kembali lagi ini bukan tentang saya tapi tentang Si Dia. Kisah perjumpaan ini berlanjut dengan usaha saya pontang panting mencari cara untuk merealisasilkan janji dengan Si Dia. Sepulang dari kampus ternyata tidak ada spanduk tentang Si Dia di pintu keluar. Kecewa karena harus memutar balik ke gerbang masuk, tapi kekecawaan lebih besar dibanding usaha saya untuk memutar balik. Rencana cadangan adalah browsing di internet, mulai dari google sampai web kampus, hingga ketemu sebuah akun twitter yang me-retweet info dari panitia. Harapan itu muncul lagi kawan. Tanpa basa-basi saya ikutan retweet dan mem-followakunnya sambil tidak lupa simpan nomor kontaknya. Berhubung sudah jam 11 malam, saya urung menghubungi Sang Perantara.
Keesokan paginya saya harus datang pagi sekali ke kampus karena ada tugas negara melatih para prajurit perang futsal jurusan. Nasib baik dari Langit mempertemukan saya lagi dengan selembar besar spanduk yang sama tapi di gerbang bawah. Tanpa menunggu lama saya menghubungi Sang Perantara untuk membuat janji ketemu Si Dia. Sedikit negosiasi karena Sang Perantara menyebutkan jam 9 pagi sebagai syarat untuk bertemu menyepakati harga, tetapi akhirnya Sang Perantara masih menyediakan jam 3 sore. Baik, sepakat dan saya melanjutkan melatih.
Jam 3 dan saya terlambat karena baru bisa hadir pukul setengah 4. Nasib baik ternyata Sang Perantara masih menunggu di situ dan ditambah sebuah kabar gembira, beli 2 gratis 1. Kebetulan saya mau beli 2 janji dan bonusnya gratis 1 janji lagi. Sedikit masalah baru muncul, untuk siapa 1 janji ini? Nanti saja pikirku. Ada satu orang yang ingin diajak, tapi mengingat rutinitasnya kemungkinan itu kecil untuk bisa menghadirkan ia di janji itu. Negosiasi panjang dengan sahabat yang mendapat hak tiket kedua tentang siapa yang akan kita ajak menepati 1 janji lagi. Beberapa nama sempat direkomendasikan hingga pada hari H, sahabat kami yang kebetulan datang dari Bandung datang ke kostan. Memang hobi baca novel dan tulis menulis, langsung saya sergap dengan ajakan ikut. Sedikit penolakan karena dia belum pernah baca tulisan Si Dia, saya balas dengan menyodorkan “Rembulan Tenggelam Di Wajahmu”. Hingga deadline jam 3 sore pada tanggal 23 April 2013 masih galau sahabat saya sampai akhirnya dia memutuskan ikut menepati 1 janji gratis itu.
Sampai di tempat perjumpaan kami, duduk menunggu yang mana sih muka Si Dia? Kayak mana sih perawakannya dan kayak mana sih orangnya? Karena jujur dari sejak pertemuaan pertama, kedua, dan ketiga saya masih belum tahu yang mana Si Dia ini. Bahkan sehari sebelum perjumpaan saya sempat searching di internet hanya sepotong foto seorang suami memotret istri dan anaknya. Sebatas itu saja yang saya tahu dari wajah Si Dia. Tiga kali bertemu lewat “Sang Penandai”, “Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah”, dan “Rembulan Tenggelam di Wajahmu” tidak cukup hingga saya sejak bertemu pertama kali lewat “Sang Penandai” sepakat dengan diri saya bahwa Si Dia ini hebat. Salah satu tulisan yang menginspirasi dan mungkin kemudian waktu mudah-mudahan saya disempatkan Tuhan menulis tentang tiga pertemuan saya.
Si Dia muncul dengan setelan anak muda, santai, nyantai, dan jauh dari bayangan saya. Memakai kaos lengan panjang, celana lapangan, dan semacam sepatu gunung. Badan kurus, rambut rada cepak, kalau kata sahabat saya mukanya culun. Well, itu kesan pertama pertemuan kami. Dalam bayangan saya orang ini rambutnya gondrong dan bertubuh gempal. Kecewa? Tidak, karena itu hanya rekayasa imajinasi saya dan bersyukur sempat bertemu dengan Si Dia. Inilah Darwis Tere Liye yang saya kenal lewat tulisan “Sang Penandai”. Mungkin yang lebih Anda kenal dengan “Hafalan Sholat Delisa” atau “Bidadari-bidadari Surga”. Jangan tertipu kawan dengan perawakannya yang culun. Gaya bicaranya persis sosok Ray, yang dikisahkan dalam “Rembulan Tenggelam di Wajahmu”, menguasai dan menusuk.
Sepanjang perjumpaan kami, Bang Darwis (begitu sapaan dalam perjumpaan itu) mengawali dengan kisah 3 orang mahasiswi kedokteran. Mereka bertiga adalah sahabat satu kampus, satu kelas, dan satu asrama bahkan. Setelah disahkan menjadi dokter mereka berjanji dalam sepuluh tahun mereka akan bertemu kembali dan melihat siapa diantara mereka yang paling banyak pasiennya.
Sepuluh tahun berlalu terjadilah reuni tiga sahabat tersebut. Dokter A menjadi seorang dokter umum di kotanya. Dokter umum yang sangat amat ideal. Baik hati, ramah, sering memberikan pelayanan gratis bagi yang tidak mampu dan banyak dikunjungi oleh pasien saat membuka praktek. Terhitung sampai puluhan ribu pasiennya dalam 10 tahun. Dokter B memilih menjadi dokter spesialis penanganan bencana. Meskipun bencana tidak rutin setiap saat, tapi kalau sudah terjadi seorang dokter spesiali bisa menangani ratusan sampai ribuan pasien. Jumlah pasien yang dicapai hampir sama sekitar puluhan ribu pasien. Giliran Dokter C berkisah yang hanya bilang saya selama 10 tahun ini hanya merawat 2 pasien. Bagaimana bisa? Ternyata sejak dia lulus, pulang ke kota asalnya, dan menikah ternyata Ibunya sakit keras dan lumpuh. Hingga 5 tahun setelahnya Si Ibu meninggal dunia. Nasib ternyata masih belum berbaik hati, suami Dokter C ini juga menderita sakit yang sama selama 5 tahun. Jadi, pekerjaan si Dokter C hanya merawat ibu dan suaminya. Hanya itu. Tapi, Dokter C punya rahasia kecil. Dalam 1 dan 2 tahun pertamanya merawat Si Ibu dia merasa frustasi karena ia sebagai lulusan kedokteran hanya bisa merawat seorang ibu dan tidak bisa mendapatkan apa yang bisa didapatkan oleh dokter muda yang lain. Hingga di tahun ketiga dia mulai bisa berdamai dengan perasaannya dan memutuskan menulis pengalaman dan ilmunya selama merawat Si Ibu di blog. Tanpa terasa hitungan waktu berjalan seorang editor di salah satu penerbit melihat harta karun ini dan memutuskan menghubungi Dokter C untuk menerbitkan tulisan-tulisannya dalam sebuah buku. Tidak hanya 1 buku tapi menjadi 5 buah buku, mulai dari merawat ibu sampai ilmu kedokteran baru dengan ramuan herbal. Buku itu mencapai jutaan kopi, memberikan manfaat bagi banyak orang dan ternyata buku ini yang juga dipakai oleh teman-temanya tadi. Jadi, Dokter manakah yang paling banyak memiliki pasien?
Perjumpaan kami dilanjutkan dengan beberapa sesi tanya jawab dan diawali dengan salah seorang penanya yang bertanya, “Kenapa tidak memasang profil Bang Darwis di buku?“ Jawaban yang bijak dari seorang Darwis Tere Liye adalah “Tidak ada urgensinya penulis muncul di mana pun. Saya menghargai para penulis yang hendak menulis profil dan akhirnya diketahui banyak orang. Saya juga berharap orang lain sebaliknya menghargai saya dengan prinsip saya untuk tidak meletakkan profil saya.” Bang Darwis percaya pada prinsip menulislah banyak hal dan membagikan banyak hal. Tanpa harus berharap pada likes dan comment. Karena penulis yang baik tugasnya adalah menulis. Begitulah sesi awal tanya jawab yang terjadi.
Kemudian Bang Darwis menambahkan lagi dengan sedikit kisah kebahagiaan dia sebagai penulis. Suatu ketika di pesawat ada orang di sebelah saya membaca karya saya dan ia sambil malu-malu menutup muka menangis tanpa tahu kalau di sebelahnya itu ada penulisnya. Atau saat menunggu di bandara  saya melihat orang yang membaca karya saya tanpa tahu orang yang menulisnya melewatinya. Saat menonton Hafalan Sholat Delisa di bioskop bisa melihat banyak anak kecil yang bisa mengucapkan “Aku sayang Mama”. “Itu adalah kebahagiaan buat saya, itu adalah achievement yang luar biasa buat saya.”, begitu Bang Darwis menyampaikan.
Pesan kedua dari perjumpaan kami adalah menulis itu butuh amunisi. Ibarat mengisi 6 gelas teko dengan sebuah ceret berisi air, kalau air di dalam ceret itu habis maka tidak akan terisi gelas-gelas itu. Tapi, saat kamu punya selang air yang terhubung ke mata air pegunungan bukan cuma 6 gelas yang bisa kamu isi melainkan 1 tangki air pun bisa kamu isi. Ini adalah pesan kedua Bang Darwis buat kita-kita yang punya keinginan menulis.
Pesan selanjutnya dari Bang Darwis adalah “Penulis yang baik cinta dengan dunia tulis menulis tanpa terpaksa. Ibarat buang air besar kalian tidak pernah terpaksa untuk melakukannya. Cinta itu ada karena terbiasa menulis.” Simpel bukan, semua bermula dari cinta. Kalau cinta terus mau apa? Gunung tertinggi juga akan didaki atas nama cinta, laut terdalam juga bisa diselami atas nama cinta. 1 kata yang punya banyak motivasi dan kekuataan, Cinta.
Perjumpaan ini berlanjut pada pertanyaan kisah dulu Bang Darwis mulai merintis menulis fiksi. Beliau bilang, “Saya memiliki 2 pilihan saat itu, pertama menjadi kolumnis tetap yang akhirnya menjadi pengamat ekonomi politik. Atau kedua saya menjadi penulis fiksi dan menjadi orang yang bermanfaat untuk orang banyak. Simpel, konkrit, dan bermanfaat. Saya bisa menulis apa saja dengan menjadi penulis fiksi.” Lagi-lagi kesederhanaan pola pikir yang tersampaikan dengan sangat sederhana tapi punya makna yang lebih dari sekedar kata S.E.D.E.R.H.A.N.A. Kita harus punya manfaat bagi orang lain. Ini pesan ketiga yang bisa saya petik dari perjumpaan kami.
Sebuah kalimat hebat lagi yang meluncur dari Bang Darwis adalah “Apakah kalian mau bertanggung jawab terhadap setiap tulisan kalian? Bertanggung jawab terhadap setiap paragraf yang kalian tulis?”. Ini adalah kalimat nasihat agar para penulis ataupun calon penulis memperhatikan dan mempersiapkan apa yang ditulis. Karena dampak dari tulisan Anda bukan main-main. Penafsiran itu datang dari para pembaca dan bisa saja terjadi salah tafsir yang justru mempengaruhi pembaca tersebut. Maka, dari itu beliau mengisahkan dalam menulis “Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin” sangat berhati-hati supaya tidak salah pembaca menafsirkan dan tidak bisa dipungkuri masih ada saja yang salah menafsirkannya.
Melanjutkan perjumpaan kami dengan sedikit perumpamaan, manusia modern menulis 1000 kata tiap hari. Bayangkan dalam satu tahun manusia modern menulis 365.000 kata. Sedangkan satu novel rata-rata berisi 50.000 kata. Idealnya manusia modern bisa membuat 7 buah novel dalam setahun. Tapi, itu tidak terjadi dan apakah kalian akan tetap dalam kesia-siaan itu? Bangsa Indonesia merupakan salah satu yang masuk dalam kategori tersebut. Bayangkan dalam sehari ada jutaan update status Facebook dan Twitter dari orang-orang Indonesia. Tapi, hanya sedikit yang benar-benar menulis.
Salah satu kalimat inspirasi lainnya datang dari Bang Darwis. Kalimat ini yang beliau sampaikan hampir di setiap workshop atau seminar penulisan. “Saya hanya menyalakan api kecil di dada kalian, tapi yang menentukan api itu menyala besar atau malah padam adalah kalian sendiri.” Karena yang tahu apa yang nantinya kita tulis adalah diri kita dan itu ada di dalam diri kita. Mari kenali diri sendiri, mungkin begitu maksud Bang Darwis. 
“Tulisan tidak harus megah dan hebat, yang penting kalian terus menulis. Tidak berharap like dan comment. Konsisten menulis. Jangan remehkan sekecil apapun tulisan Anda, karena kita tidak tahun akan sampai di mana gaungnya.” Ini juga kalimat yang sangat inspiratif dari Bang Darwis. Perumpamaan dari beliau adalah saat kalian rutin menulis dan post di blog misalnya, lihat dalam 3-5 tahun lagi maka tulisan itu akan jadi harta karun yang paling berharga buat kalian. Memang tidak ada yang tahu sampai ke mana manfaat tulisan-tulisan kita.
Menutup perjumpaan kami setelah hampir 1 jam bertatap muka, Bang Darwis menyampaikan dua buah cerita lagi. Cerita pertama tentang seorang anak perempuan usia 15 tahun kira-kira kelas 1 SMA yang hidupnya berantakan, orang tuanya cerai dan beban hidupnya berat datang di sebuah workshop. Ia mulai menulis untuk menumpahkan gundah gulana kekesalannya. 1-2 tahun berjalan dia masih menulis tentang kekesalannya dan di tahun ketiga dia mulai menulis tentang harapan-harapan. Meskipun setiap beberapa bulan sekali ia meminta Bang Darwis mengomentari, tetap saja Bang Darwis dengan prinsipnya menolak karena kita sudah sepakat kita menulis tidak berharap likesdan comment kata beliau. Sampai suatu waktu Si Anak ini bercerita kalau ternyata ada satu anak juga di seberang pulau sana yang punya nasib yang sama bahkan ingin bunuh diri. Hingga ia menemukan tulisan Si Anak ini dan itu merubah kehidupannya karena ia merasa ada teman senasib sepenanggungan. Ajaib, tulisan kecil tersebut mampu berdampak besar pada seorang anak lainnya.
Perjumpaan kami akhirnya ditutup dengan kisah persahabatan Burung Pipit, Penyu, dan Sebatang Pohon Kelapa. Kisah ini bermula ketika mereka bertiga saling bercerita kisah petualangan masing-masing. Burung Pipit yang terbang menjelajahi langit telah sampai ke belahan dunia lain dan mengunjungi berbagai macam kota-kota baru yang berbeda-beda. Pun demikian Penyu yang berenang menyeberangi samudera menuju peradaban-peradaban baru yang berbeda dengan tempat asal mereka. Tapi, apalah daya Sebatang Pohon Kelapa yang dari sejak ia lahir sampai sekarang hanya berdiri memandangi matahari yang terbenam dan terbit. Namun, ia punya sebuah rahasia kecil. Buah kelapanya yang jatuh setiap kali dibawa ombak akan menuju ke ujung pantai yang lain dan ujung negeri yang lain. Ia tumbuh menjadi pohon kelapa lagi  dan terus begitu hingga anak peranakannya telah mencapai berbagai macam ujung dunia baru. Jadi, pohon kelapa yang kulihat di negara seberang sana adalah anak-anakmu? Begitu tanya Burung Pipit dan Penyu. Ya, memang Sebatang Pohon Kelapa tidak beranjak dari tempatnya tetapi ia menyebar buah-buahnya untuk menggapai ujung dunia yang lain.
Kesan perjumpaan pertama yang amat dalam. Berbagai kisah yang diceritakan sangat bermakna. Tidak salah penilaian awal saya sejak bertemu lewat “Sang Penandai” bahwa ini orang beda, ini orang hebat. Semoga saya dan Anda sekalian bisa menikmati membaca tulisan Bang Darwis atau bahkan kita juga jadi bagian dari penulis yang menggaungkan manfaat ke banyak orang lain tanpa berharap likes dan comment.
Ditulis di suatu pagi tanggal 24 April 2013.
Oleh D. Sudagung

23 October 2011

Suudzon Terhadap TNI?


Tersenyum simpul, itulah reaksi saya ketika menerima artikel ini. Sepengetahuan saya TNI memang tidak boleh terjun di dunia bisnis dan juga politik. Setelah saya membaca artikel ini, ternyata ada klausul yang membolehkan tentara masuk ke ranah bisnis. Yaitu, dengan dalil atas nama pemerintah dan negara jika ia duduk di Badan Usaha Milik Negara. Informasi baru dan tambahan pengetahuan bagi saya.

Akan tetapi, perlu digarisbawahi bahwa apa yang saya yakini adalah TNI sebagai instrumen pertahanan negara harusnya tetap pada koridornya dan tidak terjun ke dunianya masyarakat sipil. Terjun disini dalam arti ikut dalam kegiatan politik atau bisnis. Karena menurut saya, tugas dan fungsi mulia yang mereka embang lebih besar dari sekedar ikut-ikutan bergabung di partai politik atau berenang di dunia bisnis. Tuntutan pekerjaan mereka mengamankan setiap jengkal Negara Kesatuan Republik Indonesia dari ancaman yang datang secara fisik.
Muncul pertanyaan terkait artikel ini, apakah sudah aman Indonesia dari ancaman sampai ada anggota TNI seperti Marsekal Madya TNI Rio Mendung Thalieb yang bisa ikut dalam dunia bisnis? Kalau dibilang aman, menurut saya ancaman tidak bisa diprediksi kapan datangnya sehingga menuntut kewaspadaan dan kesigapan pihak terkait. Lantas kenapa kasus ini bisa terjadi?
Kasus ini agak janggal karena terdapat dua perbedaan opini. Pertama, menurut Laksamana TNI Agus Suhartono menyatakan bahwa Bapak Rio Mendung tidak melakukan pelanggaran karena dia sudah memasuki masa 8 bulan sebelum pensiun. Dan berdasarkan UU TNI, anggota yang akan memasuki masa 1 tahun sebelum pensiun boleh melakukan penjajakan dan persiapan pensiun. Akan tetapi, pernyataan yang berbeda meluncur dari Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Beliau menyebutkan bahwa Rio yang saat itu menjabat Wakil Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional tidak diperkenankan terjun ke dunia bisnis. Hal ini dikarenakan beliau saat itu masih memangku jabatan struktural di TNI.
Sebagai warga negara yang baik, saya mencoba menyimak kedua pendapat yang bertolak belakang ini. Ada kondisi-kondisi di mana suatu aturan dapat di-multi-tafsirkan. Contohnya dalam hal ini berbeda kacamata, maka berbeda pula pemaknaan dan implementasinya. “Hebat” sekali aturan di negara kita ini, yang saya lihat di beberapa aturan ada celah yang bisa dipolitisirkan. Ada celah untuk memanfaatkan kepentingan-kepentingan tertentu bagi keuntungan segelintir orang. Saya melihat adanya sebuah kepentingan yang bermain dibalik perbedaan pernyataan antara petinggi negara ini. Lord Acton pernah menyebutkan, “Power tends to corrupt”. Saya melihat terkesan ada pihak yang mungkin bermain di balik kasus ini atau mungkin saja posisi Rio itu sendiri mendapat tempat tersendiri di tubuh TNI. Bukan bermaksud berburuk sangka, tapi perbedaan pernyataan ini memicu orang untuk berburuk sangka. Akan lain ceritanya jika kedua petinggi selevel Panglima TNI dan Menteri Pertahanan memberi pernyataan yang sama dalam kasus Rio ini.
Silahkan Anda memberikan pandangan dan saya berharap Anda dapat menambah pengetahuan saya dan kita semua yang membaca terhadap salah satu potret bangsa Indonesia. Semoga dari potret ini dapat menimbulkan sebuah perbaikan bagi negara kita Indonesia. Being different is not always bad, just believe what you believe it’s right.
ditulis pertama kali di :

12 July 2009

Indonesia Sekarang ?

Bangsa Indonesia dahulu dikenal karena keramahan dan sopan santunnya. Masyarakat yang giat bergotong royong dan peduli terhadap sesama. Sedikit deskripsi ini mungkin belum cukup untuk mendeskripsikan bangsa Indonesia yang ramah pada saat dahulu kala. Rasa hormat terhadap orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda merupakan aplikasi dari kesopanan yang kita miliki.

Jika kita mengulas balik perjalanan bangsa Indonesia, terutama jika kita melihat "image" yang diperlihatkan oleh generasi tua, kita dapat mengatakan bahkan sering mendengar "image" sopan santun dan ramah tamah telah melekat dalam diri bangsa Indonesia. Rasa kebersamaan itu terasa amat kental di lingkungan pergaulan bangsa Indonesia.

Seiring perjalanan waktu, dari lahirnya Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga sekarang berumur 64 tahun (tepatnya pada tanggal 17 Agustus 2009). Indonesia pun juga mengalami "transformasi". Enam puluh empat tahun lamanya Indonesia mengalami beberapa kali "face off" (dalam hal ini berkaitan dengan perilaku masyarakat dalam kaidah kesopanan).

Penulis merasa tergugah melihat perubahan (dalam hal ini penulis menggunakan istilah degradasi) sikap dan tingkah laku masyarakat Indonesia khususnya para remaja saat ini. Alih-alih melestarikan kebiasaan ramah tamah atau sopan, malahan sebagian besar para remaja semakin condong menuju ke arah individualis. Kita sering mendengar kata-kata bahwa "generasi muda merupakan generasi penerus bangsa". Akan dibawa kemana negara kita ini, tergantung dari para remaja atau generasi muda. Bukankah begitu saudara?

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), degradasi berarti kemunduran, kemerosotan, penurunan, dsb (tt mutu, moral, pangkat, dsb). Hal inilah yang akan penulis paparkan dalam tulisan berikut ini. Degradasi sikap dan tingkah laku para remaja Indonesia.

Pertama, kita lihat dari segi cara berpakaian. Sering kali kita melihat para remaja yang berpakaian meniru tokoh atau tren yang sedang "booming" di dunia barat sana, contohnya memakai pakaian yang minim bahan yang mengubar bentuk tubuh, rok mini, kaos yang ngetat,dan sebagainya. Hal ini sah-sah saja, toh tiru meniru karakter (dalam hal berpakaian khususnya) itu sudah lumrah terjadi. Seseorang ingin menyerupai idolanya itu sudah biasa terjadi. Namun, yang perlu diperhatikan adalah apakah tahap menyerupai ini akan menghilangkan identitas penirunya atau tidak. Bukankah dalam pelajaran dari pendidikan dasar kita sering mendengarkan kalimat "kita harus bisa menayaring kebudayaan yang sesuai dengan budaya kita dan menolak apa-apa yang tidak sesuai dengan kita."

Hal ini memiliki makna bahwa menerima kebudayaan itu boleh saja, namun identitas bangsa jugalah penting. Memang tidak bisa kita pungkiri bahwa globalisasi menjadi kunci pembenaran hilangnya batas-batas antar negara. Bukannya penulis anti-globalisasi, tetapi bukankah sudah dari lama kita diajarkan untuk pintar-pintar memilih. Apalagi hal ini berkaitan dengan identitas kita. (Waduh kalo tidak punya identitas, dianggap apa ya?).

Kedua, berkaitan dengan tingkah laku dan sikap. Sudah sering kita lihat sebagian besar remaja yang sibuk dengan dunianya saja. Misalnya, cuma asyik berhura-hura tanpa ingat akan kewajibannya, free sex, pergaulan bebas, minum-minum, dan lain sebagainya. Sudah sangat sering sekali kita mendengar hal-hal yang semacam ini. Selain itu, terkadang rasa hormat akan orang yang lebih tua sudah mulai menipis. Sangat jarang kita melihat seorang yang lebih muda membungkuk ketika melewati orang yang lebih tua atau mendahulukan orang yang lebih tua daripada kita sendiri.

Rasa kepedulian terhadap lingkungan atau sesama pun sudah jarang kita temukan. Misalnya, remaja sudah enggan mengurus hal-hal yang berbau lingkungan seperti kerja bakti atau membersihkan lingkungan. Bahkan hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya saja sudah susah ditemukan. Mungkin hal ini disebabkan sudah adanya pembagian tugas,seperti yang bertugas bersih-bersih itu petugas kebersihan. Seperti yang penulis lihat dalam sebuah film remaja baru-baru ini.

Di dalam film itu dikisahkan sekumpulan anak yang ingin mencoba peruntungan di ibukota. Mereka memutuskan untuk mengontrak sebuah rumah di daerah perumahan ibukota. Pada malam harinya mereka berinisiatif untuk melakukan siskamling di daerah tempat tinggal mereka. Namun, mereka malah dicurigai sebagai maling oleh petugas keamanan. Ketika diceramahi oleh pak RT, keluarlah kata-kata "Di sini sudah ada yang bertugas jaga malam karena orang-orang di sini pada sibuk semua, yang penting bayar iuran saja."

Keesokan harinya, mereka melihat 2 orang petugas kebersihan yang sedang membersihkan parit. Muncul inisiatif mereka untuk membantu dengan dasar "gotong royong". Lagi-lagi mereka diceramahi oleh pak RT, "Di sini sudah ada yang bertugas jaga kebersihan karena orang-orang di sini pada sibuk semua, yang penting bayar iuran saja."

Apakah hal ini yang terjadi disebagian besar kota-kota di Indonesia? Kegotongroyongan itu sudah mulai terkikis karena mereka dialihkan dengan kesibukan masing-masing. Mungkin pemandangan saling membantu itu hanya dapat kita lihat di daerah-daerah yang belum terlalu maju seperti di pedesaan. Di mana rasa kebersamaan masih sangat kuat.

Meskipun demikian, penulis masih yakin bahwa tidak semua masyarakat kita seperti itu. Walaupun ada, kesempatan untuk memperbaiki itu semua masih ada. Karena hal ini juga demi kesatuan bangsa khususnya untuk menunjukkan kembali identitas bangsa. Seperti layaknya India yang mesih dikenal dengan kain sarinya. Mungkin Indonesia kembali bisa dikenal dan lebih terkenal dengan keramah tamahannya daripada dengan image jelek yang akhir-akhir ini menempel dalam bangsa Indonesia, sperti teroris dan sebagainya.

Saudara, kemajuan negara kita ditentukan oleh kemauan kita sendiri untuk berubah. Khususnya kita genersi muda yang nantinya akan memegang Indonesia di masa yang akan datang. Mengutip dari salah satu ayat Al-Qur'an pada surah Ar-Ra'd ayat 11, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan
yang ada pada diri mereka sendiri”.